8 OKTOBER 2011

RENUNGAN HARIAN, SABTU, 08 OKTOBER 2011
“Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa. Karena Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat; Dia yang memukuli, tetapi yang tangan-Nya menyembuhkan pula” (Ayub 5:17)
Dalam dunia pendidikan dikenal istilah “longlife education”, yang aritinya kirakira belajar selama hidup. Selama kita hidup selama itu pula kita masih belajar. Dari belajar mempercayakan diri dan belajar tahu diri sampai belajar bertenggang rasa dan belajar menghitung masa. Selama hidup kita masih perlu didik. Pada pihak lain, selama hidup selama itu pula kita mendidik. Tiap kata dan perilaku kita berdampak pada diri orang di sekitar kita. Kita semua adalah pendidik. Allah mendidik kita dan kita menjadi pendidik dan seterusnya orang yang kita didik menjadi pendidik.

Dalam rangka menjalankan pendidikan, sering juga diikuti dengan teguran atau disiplin atau sanksi terhadap ketidak-taatan atau pelanggaran.  Yesus Kristus, yang adalah TUHAN dan Juruselamat kita disebut juga Guru dengan kata lain pendidik. orang yang mengikuti-Nya disebut murid, atau anak didik.

Kisah Ayub sangat menarik untuk disimak. Apa maksud kitab Ayub sebenarnya? Ada yang mengira bahwa cerita tentang orang yang tidak mengomel dalam penderitaan, pada hal sebenarnya Ayub mengomel, marah, bahkan menggugat TUHAN. Ada salah paham yang lebih keliru lagi, yaitu yang mengira bahwa ini adalah cerita tentang orang yang diberi kekayaan karena taat kepada TUHAN. Itu malah bertolak belakang dengan maksud kita Ayub.

Penderitaan Ayub diawali dengan kebanggaan Allah melihat Ayub. Allah mengatakan: “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh da jujur, yang takut alan Allah dan menjauhi kejahatan” (ay 18). Iblis yang mendengar perkataan itu berkata: Tidak heran; maklumlah Ayub menerima banyak kekayaan. Ia saleh supaya kaya. Coba kalau TUHAN tidak memberi apa-apa, pasti dia mundur dari TUHAN (bandingkan 1:19-11).

Menurut Allah, itu bukan motivasi Ayub. Ayub akan tetap saleh meskipun tidak menerima apa-apa dari Allah. Lalu Allah menantang Iblis untuk mencobai Ayub. Maka mulailah penderitaan itu. Iblis menjatuhkan sederetan musibah kepada Ayub. Tinggallah Ayub yang menjadi terkejut, bingung dan sedih. Tiba-tiba semua harta bendanya ludes habis. Semua kawryawannya dibunuh perampok. Sumber mata pencaharaiannya bangkrut. Seakan-akan itu semua belum cukup, tiba-tiba semua anaknya tewas diterjang angin topan. Kemudian Ayub ditimpa penyakit. Ayub terhempas lemas. Betul-betul naas. Apa salahku? Mengapa tiba-tiba malapetaka datang bertubi-tubi? Mengapa? Mengapa? Marilah kita berlajar dari kehidupan Ayub dalam menapaki perjalanan hidup kita didunia ini! (PaM)

Doa:Ya TUHAN, ajarlah kami untuk menerima segala yang Engkau rencanakan bagi kami, untuk menerima hal-hal yang sukar kami pahami, untuk merubah hal yang tidak mampu kami rubah! Amin!

Sumber : GKPI PUSAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *