5 OKTOBER 2011

RENUNGAN HARIAN, RABU, 05 OKTOBER 2011
“Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala! (Ratapan 5:21)
Pada suatu hari Pak Pos yang berusaha mengantar surat kepada alamat surat yang tertera di sampul surat. Setelah sekian lama mencari, namun tidak menemukannya. Alamat surat tidak jelas: jalan, RT/RW, Kelurahan/Desa, Kecamatan tidak dicantumkan. Alamat surat itu  bahkan membingungkan, karena yang tertulis hanya nama kota kabupaten. Setelah begitu lelah mencari alamat surat itu, tidak menemukannya, lalu di mangambil alat tulisnya dan menulis di sampul surat itu dengan warna merah “Dikembalikan kepada si alamat!Nabi Yeremia yang diyakini sebagai penulis dari kitab Ratapan (Nudub = tangiasanYeremia) ini, manyuarakan kerinduannya kepada TUHAN. Bangsa Israel yang telah semakin jauh meninggalkan TUHAN,  tidak lagi peduli atau tidak lagi takut/percaya kedapa-Nya membuat hati nabi Yeremia semakin menderita dan bergumul.Ada suatu kebenaran yang tersembunyi yang diberitakan oleh kitab Ratapan ini, bahwa Allah menanggung sengsara beserta dengan orang yang dihukum-Nya! Kebenaran ini diabadikan dalam diri nabi Yeremia; ia menaruh kasih kepada TUHAN, serta menaruh kasih pula kepada bangsanya, sehingga ia menanggung sengsara duakali di dalam hatinya. TUHAN adalah kasih yang tak berkeputusan, dan Ia menanggung sengsara beserta  orang-orang yang dihukum-Nya.  Oleh karena nabi Yeremia demikian menderita sengsara, lalu timbullah dalam hatinya untuk berharap kepada TUHAN. Oleh sebab itu aku akan berharap katanya  dalam fs 3:21. Harapan yang baru iitu hanya di dalam TUHAN sendiri, hal ini nampak dalam ayat-ayat lanjutannya. Dalam akhir ratapannya, Yeremia berseru: “Engkau ya TUHAN, bertahta selama-lamanya (5:19. dan Doa terakhir dia berseru: “Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala, doa ini belum digenapi, dan akan digenapi kelak; dan Sion akan unggul di antara segala bangsa; karena walaupun bangsa yang terpilih itu menanggung sengsara karena api penderitaan dan penganiayaan yang sehebat-hebatnya, namun ia tiada akan binasa, sama seperti belukar duri yang menyala di gunung Horeb itu. Itulah yang dirindukan oleh TUHAN agar kita kembali kepada-Nya.  Kita yang sudah lelah, tak berdaya lagi, maka
untuk dapat hidup, marilah kita kembali kepada Allah sumber kehidupan dan kekuatan itu!
Ada sebuah syair lagu rohani yang populer tahun 70-an yang syairnya kurang lebih berbunyi: Berbaliklah dan datang pada Bapa, Dia menunggu kau dengan kasih-Nya. Dia senantiasa dengan tangan terbuka menunggu kita (PaM)

Doa:Ya TUHAN, Allah kami  terimalah kami yang dengan kerendahan hati berbalik kepada-Mu. Tidak ada yang kami harapkan selaindipada Engkau saja. Amin!

Sumber : GKPI PUSAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *