Khotbah Minggu 7 Juli 2013 (VI Set. Trinitatis)

KHOTBAH MINGGU 7 JULI 2013 (VI SET. TRINITATIS)

THEMA : HIDUP DALAM HIKMAT DAN KASIH

KOLOSE 4 : 1 – 6

 

Beberapa ahli meyakini kitab ini ditulis oleh Rasul Paulus saat ia berada di dalam penjara. Namun ada yang meyakini bahwa kitab ini ditulis oleh orang lain. Yang meyakini orang lain menulis kitab ini menganggap bahwa penulis kitab ini meyakini bahwa andaikan Rasul Paulus menghadapi keadaan seperti yang ada dalam kita Kolose ini, maka Rasul paulus akan menuliskan hal yang sama sebagaimana yang dipaparkan oleh penulis Kitab Kolose. Dalam konteks kita Kolose ini sedang diperbincangkan tentang hikmat dan pengetahuan. Penulis kitab Kolose mau meluruskan pandangan tersebut bahwa hikmat dan pengetahuan itu haruslah dihubungkan dengan Kristus. Saat hikmat dan pengetahuan tidak dikaitkan dengan Kristus akan melahirkan kebebasan yang lepas kontrol. Oleh sebab itulah dalam kita Kolose ini ada penekanan untuk hidup sesuai dengan Tuhan Yesus Kristus yang telah dikenal melalui pengajaran para rasul.

Kitab Kolose berbicara tentangĀ  Kristus, tentang pelayanan dan penderitaan Paulus, tentang hidup di dalam Kristus. Ini mengartikan bahwa Kolose mau mengatakan bahwa orang yang percaya kepada Kristus mengalami pertobatan serta perubahan tingkah laku. Tingkah laku yang dulu digantikan dengan tingkah laku yang baru yang sesuai dengan apa yang telah Kristus perbuat. Oleh sebab itulah orang percaya telah menjadi manusia baru. Di dalam kemanusiaan yang baru tersebut, hubungan di dalam keluarga, sesama bahkan antara tuan dan hamba juga menjadi sebuah pola yang baru di dalam Kristus Yesus. Itulah yang dapat kita baca di dalam Kolose 4:1 yaitu perlu membaharui hubungan antara tuan dan hamba. Perkataan ini ditujukan kepada tuan, atau orang terpandang ketika itu yang memiliki hamba/budak.

Penulis kita Kolose ini seolah-olah mau mengatakan peribahasa orang Indonesia “diatas langit masih ada langit” dengan menyebutkan kamu juga mempunyai tuan di Sorga. Sebelum ungkapan ini terlebih dahulu wejangan disampaikan kepada para hamba di pasal 3:22-24 yaitu agar hamba bertindak dan bekerja dengan segenap hati dengan motivasi melakukannya bagi Tuhan dan bukan bagi manusia. Namun di pasal 4:1 ditegaskan bahwa para tuan juga adalah hamba dari yang di sorga. Dengan demikian perkataan di pasal 3:22-24 itu juga berlaku bagi yang merasa tuan di dunia ini.

Setiap tuan haruslah memberlakukan orang lain dengan baik yaitu harus bertindak adil dan jujur. Terkadang para tuan memberlakukan hambanya sebagai barang/milik yang bisa diperlakukan semaunya. Seorang tuan terkadang tidak menghargai bawahannya. Setiap orang percaya harus mencamkan firman ini di dalam hatinya: “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan disamping itu akan ditambah lagi kepadamu” (Markus 4:24).

Ay 2-5: Seruan untuk berdoa dan mengucap syukur. Dalam Pasal 1:3-14 juga ada ungkapan syukur dan doa dari penulis kitab ini tentang iman percaya dari pembaca kitab ini. Dilukiskan dalam pasal 1 tersebut bahwa iman mereka berkembang dengan baik dan memohon kiranya Tuhan semakin menguatkan jemaat kolose. Seruan berdoa dan mengucap syukur ini juga adalah sebagai ungkapan untuk selalu menyerahkan hidup hanya kepada Tuhan saja. Hidup berserah kepada pertolongan Tuhan. Ungkapan berjaga-jaga adalah agar umat tidak lengah dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran yang ada di dunia ini. Seruan berdoa juga adalah untuk mendoakan penulis atau para rasul yang sedang mengalami tekanan oleh karena pemberitaan kabar baik. Disini diperlihatkan suatu sikap untuk saling menopang yang satu dengan yang lain. Saling menguatkan dan saling mendoakan. Di ay 5 juga diajak umat untuk hidup penuh hikmat dengan orang orang luar. Sebutan ini tentu hampir sama dengan seruan berjaga-jaga yaitu agar tidak mudah tergoda untuk meninggalkan iman percaya, atau tertarik kepada pengajaran sesat.

Ay 6. Ayat ini menyerukan umat untuk berkata-kata penuh dengan kasih. Dalam 1 Timotius 4:12b, dikatakan jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. Amsal 20:19 Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut. Dengan demikian orang Kristen haruslah:

1. perkataan penuh kasih, artinya suatu perkataan yang penuh dengan keramahan dan didasari oleh kasih setelah dahulu dipertimbangkan dengan matang. Efesus 4:29 mengatakan: Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

2. Dalam berkata-kata haruslah perkataan yang menyampaikan firman, 1 Petrus 4:11a Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; Jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya, Amin.

Dengan memahami hal demikian kita melihat bahwa hidup menjadi Kristen tidak terlepas dari hubungan sesama. Ajaran Kristus memberi tempat kepada hubungan/relasi dari setiap orang. Hal itulah yang terjadi di dalam kehidupan kita keseharian. Orang yang mengaku Yesus sebagai juruselamat adalah manusia baru di dalam Kristus Yesus.

Sumber : Humgu, Suara Gkpi, No: 47/06/2013, Edisi Juni 2013, Hal : 69-70

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *