Khotbah Minggu 30 Juni 2013 (V Set. Trinitatis)

KHOTBAH MINGGU 30 JUNI 2013 (V SET. TRINITATIS)

THEMA : MENGIKUT YESUS TANPA DALIH

MATIUS 8 : 18 – 22

 

Perikop ini berada di dalam bagian kitab Matius yang berkisah tentang tindakan Yesus yang penuh kuasa (Matius 8:1-9:38). Dari tema bagian ini dapat dimaklumi bahwa ada banyak orang yang mengikut Yesus serta tercengang dengan berbagai mujizat serta pengajaran yang disampaikan oleh Yesus. Oleh sebab itulah banyak orang yang mengelilingi Yesus. Dengan berbagai tindakan Yesus yang mencengangkan serta sikap Yesus yang tidak memandang siapa yang Ia sembuhkan membuat daya tarik tersendiri.

Orang yang mengikut Yesus pun berasal dari berbagai golongan. Tidak terkecuali dari seorang ahli taurat yang terkesima dengan apa yang diperbuat oleh Yesus. Tentu ada banyak keinginan setiap orang di dalam mengikut Yesus. Dalam kitab ini tidak diperlihatkan tentang apa isi hati setiap orang. Yang disampaikan adalah bagaimana Yesus memberi tanggapan atas keinginan setiap orang di dalam mengikut diriNya. Kitab ini paralel dengan kitab Lukas 9:57-62. Dalam kitab paralelnya ini ada tiga percakapan yang muncul dalam hal kehendak mengikut Yesus. Namun dalam kitab Matius ini hanya ada dua hal:

1. Ay 19-20. Keinginan untuk mengikut Yesus adalah dari dirinya sendiri. Ahli Taurat mengajukan dirinya untuk menjadi murid Yesus dengan mengatakan: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Ahli Taurat menawarkan diri untuk menjadi murid Yesus. Ungkapan ini bisa jadi oleh karena ia terkesan dengan apa yang Yesus perbuat. Penyebutan ia adalah seorang ahli taurat mau mengatakan bahwa kalangan ahli taurat secara umum anti atau berseberangan dengan Yesus Kristus. Namun Yesus Kristus memberi jawaban yang  berbeda: “Serigala memupnyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Arti dari perkataan Yesus ini adalah bahwa mengikut Yesus itu bukanlah hal yang mudah. Yesus mengatakan bahwa dalam mengikut Yesus setiap orang harus rela “terasing” dengan dunia ini. Jika ingin menjadi murid Yesus harus tegas, apakah lebih mengasihi dunia atau tidak. Jika lebih mengasihi dunia maka kita tidak akan dapat menjadi murid Yesus. Dalam 1 Yohanes 2:15 dikatakan: Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Abraham di dalam Ibrani 11 memahami bahwa dirinya hanaylah sebagai perantau yang sedang melintasi negeri asing. Mengikut Yesus berarti bersiap menanggung kesukaran. Kesukaran itu terjadi karena kita akan mengekang diri kita untuk tidak melakukan yang jahat. Sebab dunia ini menawarkan hal yang indah melalui tindakan yang jahat. Dalam 2 Timotius 2:3 Paulus mengatakan kepada Timotius: ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.”

2. Ay 21-22. Dalam Lukas 9:25 lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku.” Dalam bagian ini Yesuslah yang mengajak. Jawaban dari orang yang diajak tersebut adalah: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Orang Yahudi memiliki kebiasaan mengadakan upacara penguburan selama 7 hari. Jadi seseorang ini ingin memberi penghormatan kepada orang tuanya yang baru meninggal. Namun Yesus memberi jawaban yang berbeda: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka. Nas ini semakna dengan Matius 10:37 dikatakan: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku”. Perkataan Yesus ini seolah olah bertentangan dengan apa yang disampaikannya di dalam markus 7:10-12. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban — yaitu persembahan kepada Allah –, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya. Yang mau disampaikan Yesus adalah kasihilah Tuhan lebih dari yang lain. Membaca kitab Lukas 9:61-62 ini juga berkaitan dengan yang kedua yaitu lebih mendahulukan yang mana? Prioritas utama adalah mengikut Yesus Kristus.

 

RENUNGAN.

Yang menarik dari nas ini adalah tentang tuntutan Tuhan menjadi murid Yesus. Menjadi murid Yesus bukanlah hal yang mudah dan gampang. Saat seseorang memutuskan untuk mau ikut Yesus, sejatinya di dalam dirinya sudah ada pengertian bahwa mengikut Yesus membutuhkan sebuah ketegasan dan ketetapan hati. Mengikut Yesus itu mengatasi semua keajaiban lain dan bahwa hal ini mungkin mencakup pemutusan ikatan keluarga. Ungkapan ini mau mengajak setiap orang untuk merefleksi betapa penting dan seriusnya menjadi murid.

Namun sikap ini terkadang diplintir seseorang dengan mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan dirinya sendiri atau untuk kemuliaan sang pemimpin bukan kemuliaan Tuhan. Dalam hal ini setiap orang perlu mengkritisi akan sikap radikalisme yang membuta.

Yesus Kristus menghendaki bahwa kita adalah tunduk hanya kepada allah Bapa semata. yesus Kristus tidak memusatkan segala sesuatu kepada diriNya tetapi kepda Bapa. Yesus berupaya menyembunyikan keilahianNya, bahkan saat seseorang mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Yesus mengatakan bagar orang tersebut tidak menyebarkannya.

Mengikut Yesus adalah suatu panggilan. Yesus memanggil setiap orang dengan demikian maka setiap orang membuka diri untuk panggilan Tuhan di dalam hidup kita. Setiap orang yang mengikut yesus harus menyangkal diri, pikul salib dan ikut Yesus.

Sumber : Pdt. HUM Gultom, STh, Suara Gkpi, No: 47/06/2013, Edisi Juni 2013, Hal : 67-68

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *