Khotbah Minggu 7 April 2013 (Quasimodegeniti)

KHOTBAH MINGGU 7 APRIL 2013

THEMA : LEBIH TAAT KEPADA ALLAH

KISAH PARA RASUL 5:27-32

 

PENDAHULUAN

Simon Petrus satu nama dari antara murid yang secara khusus mendapat tantangan dari Tuhan Yesus malam sebelum ditangkap. Dalam percakapan itu dinyatakan bahwannya Petrus memiliki gangguan iman (ketakutan). Yesus berkata: “…. tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur, dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Pada saat itu Petrus masih punya nyali dan jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama sama dengan Engkau!” Lalu Yesus berkata “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.” (Lukas 22:32-34). Rasa ketakutan para murid semakin menjadi jadi setelah Yesus disalibkan dan dikuburkan. Lalu mereka berkumpul serta memalang/mengunci pintu dan saat itulah Tuhan Yesus hadir memberi salam damai sejahtera (Yohanes 20:19-23). Pada saat Roh Kudus turun penuhlah mereka dengan Roh Kudus. Ketika itulah Simon Petrus menjadi berani dan tegas untuk menyatakan imannya kepada Tuhan Yesus tanpa ragu lagi dan itulah bagian nas khotbah ini.

 

PENJELASAN.

Sebelum hari Pentakosta, yaitu hari turunnya Roh Kudus, para rasul masih diliputi rasa takut, yang walaupun mereka sudah melihat dengan mata mereka sendiri bahwa Yesus yang disalibkan itu telah bangkit dari antara orang mati. Ketakutan para rasul adalah sekitar jika mereka ditangkap oleh pejabat agama (Imam Besar) dan di eksekusi (dihukum) mati sama seperti Tuhan Yesus. Perasaan takut yang merasuki Petrus membuatnya menyangkal bahwa dia bukanlah salah seorang dari murid Tuhan Yesus. Petrus tak mau mati demi Tuhan Yesus, dia telah sengaja melupakan perkataan dan janjinya yang diucapkan dengan jelas layaknya janji seorang prajurit. Semua janji itu telah disiasiakan, keberanian Petrus menjadi pupus setelah melihat sadisnya penyiksaan yang dilakukan kepada Yesus. Jelasnya Petrus tidak mau mati siasia. Ketakutan itu juga diwarnai dengan ketakutan melihat kehadiran Tuhan Yesus yang dikira hantu setelah kebangkitan dari kematian. (Lukas 24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.) Setelah Yesus menampakkan diri beberapa kali kepada para rasul mulailah mereka bersemangat, demikian juga Petrus menjadi semangat Dia mulai yakin bahwa Yesus benar telah bangkit dari kematian, apalagi sesudah mereka makan bersama-sama (karena hantu tidak makan seperti itu). Dalam pertemuannya dengan Yesus yang bangkit dari kematian ia tahu dan yakin bahwa kematian tidak lagi sesuatu yang perlu ditakutkan. Petrus juga disegarkan kembali ketika Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi Yesus. Yesus memberi perintah kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:17, …..”Apakah engkau mengasihi Aku? ” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau. “Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”.

Apa yang membuat para rasul menjadi pemberani dan dengan jelas mereka memberi kesaksian? Ternyata mereka hidup dengan selalu berdoa: ” …. berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu” (Kisah Para Rasul 4:29-30). Allah mendengar doa mereka dan telah menyelamatkan mereka dari ancaman Sanhedrin dan Allah telah bertindak membebaskan mereka dari penjara melalui para malaikat. Memang itu bukan hanya untuk memberi kenyamanan pribadi mereka, tetapi untuk kelanjutan misi mereka sebagai saksi. Apa yang terjadi dengan Petrus sehingga membuat dia berubah dalam perilakuknya dalam rentang beberapa bulan? Jelas Perasaan takut Petrus hilang dan ia telah menjadi yang paling berani. Apa yang telah menyebabkan perubahan ini? Bagaimana kita menjelaskan semua ini? Alkitab sangatlah jelas. Perubahan Petrus dan para rasul lainnya dan hilangnya rasa takutnya terjadi karena karya Roh Kudus.

Seiring dengan nama minggu Quasimodogeniti yang artinya seperti bayi baru lahir, para rasul juga memiliki sesuatu yang baru. Apa yang menjadi baru bagi para rasul itu? Ada semangat dan keberanian yang baru. Roh Kuduslah membuat pembaharuan kepada mereka seperti bayi baru lahir. Allah di dalam Roh Kudus membuat mereka menjadi berani dan mampu berhadapan dengan siapapun untuk memberitakan Firman (II Timotius 1:7, Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban). Roh Kudus telah mengubah pikiran dan iman para rasul, tidak ada lagi keraguan mereka menyaksikan Tuhan Yesus. Tantangan dan larangan apapun yang mereka hadapi dari Mahkamah Agama tidak menjadi hal yang menakutkan, sekalipun mereka dipenjarakan (ay 27) Para rasul akan menghadapinya. Roh Kudus mengubah hati yang ragu menjadi taat kepada ALLAH dan tidak takut lagi kepada ancaman manusia.

perubahan yang luar biasas dapat dirasakan para rasul, dengan semangat dan oleh kekuatan Roh mereka dapat berdiri di depan Bait Allah bersaksi dan mengajari orang banyak. Bukan hanya mengajari bahkan mereka melakukan pekerjaan kasih, mujizat TUHAN terjadi dengan kesembuhan orang sakit. Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan (ay 16). Melihat suasana keberanian pengajaran yang sangat mempengaruhi orang banyak itu, akhirnya mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikut, yaitu orang-orang dari mazhab Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati (ay 17). Imam Besar dengan keras melarang mereka mengajar dalam nama Tuhan Yesus, karena mereka sudah memenuhi Yerusalem dengan ajaran mereka dan Imam Besar mengancam dengan perkataan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.

Petrus bertindak sebagai juru bicara dan para rasul lain yang menunjukkan persetujuan (dalam bahasa Yunani dengan kata apokritheis dalam bentuk tunggal, diikuti oleh kata kerja jamak terbatas artinya menjawab), mereka mengakui bahwa ketaatan kepada Allah menjadi prioritas atau yang lebih utama dari pada melakukan perintah manusia (bandingkan 4:19-20, Luk 20:25) Petrus menjawab bahwa Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. (Bandingkan contoh lain 22:14). Allah membangkitkan pemimpin Yahudi yang mati tergantung di kayu salib (Lihat Luk 23:21). Dengan bahasa ini Petrus mengacu pada Ulangan 21:23 (“Siapa yang digantung pada kayu salib berada dibawah kutukan Allah”) menunjukkan kedalaman penghinaan kepada Yesus – mereka telah meminta untuk kematian Yesus di bawah kutuk Allah (bandingkan Kis 10:39, 13:29, Gal 3:13). Namun melalui kebangkitan, kenaikan, Allah memuliakan dan telah membenarkan Yesus (Kisah Para Rasul 2:34 / Ps 110:1). Para rasul mengungkapkan bahwa Allah telah menempatkan Tuhan Yesus adalah Mesias yaitu Juruselamat (Kisah Para Rasul 2:21, 36, 38-40). Berkat keselamatan yang diberikannya kepada Israel telah memberi kesempatan untuk bertobat (lihat komentar pada Kis. 3:19) dan pengampunan dosa (2:38, 3:19-20, 26; 10:43, 13:38, 26:18 juga Luka 24:47). Meskipun berkat keselamatan tidak khusus untuk Israel, adalah tepat untuk menyatakan pemenuhan berkat keselamatan yang nenek moyangnya telah diterima di dalam janji (Kisah Para Rasul 3:26; 13:46). Dan kami adlah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia (Ay 32).

 

RENUNGAN

Keberanian Petrus menyaksikan Tuhan Yesus yang adalah Mesias itu adalah suatu yang sangat luar biasa dan merupakan anugerah. Mengingat kisahnya menyangkal yesus kepada orang yang mengatakan bahwa dia adalah murid Tuhan Yesus. Hal ini menjadi renungan buat kita orang Kristen karena di jaman sekarang ini ada juga orang yang telah berbalik meninggalkan imannya demi kedudukan dan harta dunia. Petrus mengajak kita untuk taat dan mematuhi Allah bukan untuk mematuhi manusia atau dipengaruhi kemewahan atau harta dunia. Roh Kudus telah memimpin para rasul kepada perubahan menjadi seperti bayi baru lahir Quasimodogeniti. Dengan memberikan hati dipimpin Roh Kudus kita akan dimampukan menentang tantangan dan pergumulan dunia ini, dan memprioritaskan kebenaran Firman Allah (Jadilah seperti bayi baru lahir yang selalu tergantung kepada orang tua, dalam hal ini sebagai orang kristen yang selalu tergantung atau taat kepada ALLAH) ketimbang menuruti kenikmatan dunia. Hiduplah dengan pembaharuan: taat kepada Tuhan bukan saja sebagai pendengar Firman Tuhan tetapi jadilah menjadi saksi dari kebenaran kuasa Firman Tuhan, Amin.

Sumber : Pdt. O. Lubis, Suara Gkpi, No: 44/02/2013, Edisi Maret 2013, Hal : 44-46

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *