Khotbah Minggu 5 Mei 2013 (Rogate)

KHOTBAH MINGGU 5 MEI 2013 (ROGATE)

THEMA : HIDUP DALAM DOA

MATIUS 7 : 7 – 10

 

PENGANTAR

Matius pasal 5-7 disebut dengan khotbah di bukit, di sana Yesus mengemukakan beberapa ajaran pokok kekristenan, salah satunya dari pokok ajaran itu adalah tentang doa (Mat. 7:7-10). Mengenai doa ini, Tuhan Yesus telah memperingatkan orang percaya terhadap bahaya kemunafikan doa orang Farisi dan formalitas doa orang yang tidak mengenal Tuhan (Mat 6:5-7), selain itu Tuhan Yesus juga telah memberikan pola doa yang sejati (Mat. 6:9-13). Ajaran tentang doa ini menjadi sangat penting karena doa itu bukan sekedar respons lahiriah, melainkan jawaban atas panggilan dan kemurahan Tuhan Allah. Bagi seseorang yang melakukan doa atau berdoa adalah karena ia meyakini doa itu sebagai perintah dari Tuhan yang disampaikan lewat firmanNya dan perintah itu mesti dijalankan di dalam hidup kesehariannya sebagai pengikut Kristus.

 

PENJELASAN.

1. Doa adalah perintah dan bagian integral kehidupan

kata-kata ini “minta, cari dan ketoklah” jelas merupakan “perintah” dari Tuhan Yesus yang mesti dilakukan secara terus-menerus atau berulang-ulang, bukan sekali atau dua kali saja. Perintah inilah menjadi dasar melakukan doa itu kepadaNya. Di sana diminta kegigihan dan ketekunan di dalam meminta dan mengharapkan sesuatu. Dengan demikian jelaslah bahwa doa itu adalah sesuatu yang diperintahkan (oleh Tuhan Yesus), doa bukan sekedar suatu himbauan yang boleh atau tidak dilakukan, sehingga respon yang diharapkan Tuhan dari orang percaya adalah ketaatan. Artinya, doa itu menjadi bagian integral dari kehidupan orang-orang percaya. Oleh karena itu, setiap orang percaya mesti menyadari bahwa doa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya. Tentunya harus disadari juga jikalau doa itu merupakan perintah Tuhan Yesus, sudah barang tentu bahwa doa sangat penting dalam kehidupan setiap orang percaya. Di balik kegigihan dan ketekunan atau ketaatan seseorang dalam berdoa, Tuhan Yesus menjanjikan: “Karena setiap orang yang meminta akan menerima; setiap orang yang mencari akan mendapat; dan setiap orang yang mengetok, maka baginya pintu akan dibukakan”. Ini bukan sekedar janji, melainkan jawaban pasti terhadap doa itu, artinya bahwa “sesuatu” yang diharapkan itu pasti akan terjadi, dan Allah sebagai pihak yang “berjanji” senantiasa memberikan pemberian-pemberian yang baik. Dan “yang baik” itu pun harus dipandang dari sudut pandang Tuhan Allah, bukan sudut pandang orang percaya. (bdk. Yer. 29:11)

2. Berdoa: Meminta, Mencari dan Mengetok.

a. Meminta.

Doa adalah permintaan, dimana di dalam doa itu ada tindakan “meminta”, sebagai pengungkapan isi hati dihadapan Tuhan. Allah adalah allah yang “mahatahu”, yang mengetahui jiwa dan pikiran manusia, namun hal itu tidak menghalangi orang percaya mengungkap apa saja dihadapan Tuhan, sebab hal mendasar yang diharapkan Tuhan dalam hal “meminta” tersebut adalah sikap keterbukaan memohon kepadaNya. Dari sikap itu, Tuhan mengetahui apa dan bagaimana seseorang meyakini dan mengimani doanya. Tuhan yesus memerintahkan orang percaya “meminta” kepadaNya, sekaligus menjadi dasar dan pertimbangan bagi Allah untuk “memberikan” sesuatu kepada yang meminta. Oleh sebab itu adalah tidak perlu merasa segan mengungkapkan isi hati kepada Tuhan sejauh hal itu bertolak dari iman. Namun perlu diingat bahwa di dalam tindakan “meminta” kepada Tuhan harus disertai sikap “kerendahan hati” bukan arogansi. Itulah sikap yang pantas dalam berdoa, jauh dari kesombongan dan sikap menetahui segala hal. Allah tidak menyukai sikap keangkuhan atau tinggi hati, sebab Ia akan merendahakan orang yang bersikap seperti itu (bdk 23:12). Tindakan “meminta” erat berkait dengan “rendah hati”, doa seperti itu adalah doa yang berkenan kepadaNya, yakni doa yang akan mendapat jawaban sesuai dengan ukuran dan ketentuanNya.

b. Mencari

Dalam doa yang diajarkan Tuhan Yesus, di sana ada satu penggalan kalimat: “Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga” merupakan sebuah indikasi bahwa dalam kehidupan ini yang mesti terjadi adalah kehendak Tuhan, bukan kehendak manusia (orang percaya). Dalam kaitan itu, berdoa adalah bagai sebuah petualangan, di mana seseorang terus menerus mencari, mencari dan mencari. Itu berarti dalam setiap kali berdoa, doa itu tidak selalu terjawab atau terkabulkan. Harus diingat bahwa Tuhan memiliki hak tidak menjawab, menunda atau menolak doa seseorang itu, di samping itu, Tuhan lebih mengetahui tentang diri seseorang daripada seseorang itu tentang dirinya sendiri. manusia pada hakikatnya adalah pribadi lemah dan terbatas, tidak terkecuali orang percaya, ia sangat membutuhkan dampingan dan kekuatan di luar dirinya, yakni Tuhan. Di situlah urgensi sebuah doa, melalui doa ia memohon pertolongan tuhan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Doa merupakan sarana mencari, mencari dan mencari Tuhan dan pertolonganNya. Tindakan mencari jelas bukan tindakan sekali atau duakali, namun berulang-ulang tanpa batas yang ditentukan. Tentu hal ini bukan pekerjaan yang mudah, jangan-jangan sangat melelahkan atau mungkin juga membosankan. Menjawab kemungkinan timbulnya keraguan dan kejenuhan, Tuhan Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang “mencari” dipastikan akan “mendapat”. Artinya pencarian itu akan mendapat jawaban. Dengan demikian, di dalam berdoa, tindakan pencarian bukanlah sesuatu yang sia-sia atau tanpa hasil, melainkan kepastian, di mana jawaban dinyatakan Tuhan. Namun harus dipahami mencari Tuhan dan jawabanNya bukanlah sesuatu yang muedah dikerjakan, melainkan sulit. Kegigihan dan kebulatan tekad adalah salah satu syarat untuk maksud itu. Oleh karena itu, keyakinan akan “mendapat” di dalam tindakan pencarian itu menjadi pendorong utama untuk terus mencari, mencari dan mencari sampai bertemu dengan jawaban itu. Indahnya sebuah doa adalah karena ia terus mencari, mencari dan mencari dan pencarian itu menemukan jawabannya.

c. Mengetuk

Memasuki sebuah rumah yang pintunya tertutup, setiap orang hendaknya masuk dengan mengetok pintu rumah tersebut. Di samping untuk memenuhi tuntutan etika, tindakan mengetok pintu adalah kelaziman masyarakat pada umumnya. Tidak baik memasuki rumah orang jika tidak didahului dengan ketukan pintu. Ketukan pintu itu menandakan bahwa ada seseorang “tamu” yang datang ke rumah tersebut, oleh sebab itu pintu mesti dibuka sehingga sang tamu dapat masuk ke dalam. Jikalau seseorang masuk ke rumah orang lain tanpa ketukan pintu, maka bisa dianggap atau dipahami sebagai “pencuri”. Jikalau rumah itu betul-betul terkunci dari dalam, maka tindakan mendobrak pintu jelas merupakan tindakan kekerasan atau kejahatan. Demikian halnya dengan berdoa, dimana ibarat memasuki sebuah rumah, demikian orang percaya berhadapan dengan Allah Bapa. Diyakini pintu kasih dan anugerah Tuhan perlu diketok supaya dibuka dari dalam dan yang mengetok bisa masuk ke dalam. Oleh sebab itu, tindakan “mengetuk” pintu itu mesti dilakukan secara berulang-ulang sampai pemilik pemilik rumah mendengar dan membukakan pintu itu. Dalam hal berdoa dibutuhkan kesabaran dari pihak “tamu”, sebab kesabaran itu penting, di samping karena pemilik rumah belum mendengar ketukan, pihak pengetok pintu adalah pihak yang paling berkepentingan. Doa bukanlah sesuatu yang langsung jadi (terjawab), dibutuhkan kegigihan “mengetok” pintu pengasihan Tuhan, dan dalam kaitan itu perlu kesabaran pada diri orang percaya. Satu hal yang pasti bahwa ketukan itu pada akhirnya didengar “tuan rumah”, sehingga pintu itu dibukakan dan bisa masuk ke dalam. Itu sebab, dalam hal berdoa, perlu keteguhan hati dan upaya atau usaha yang pantang menyerah. Jangan menyerah pada ketukan ketiga atau keempat, ketuklah berulang-ulang, hari ini, esok, lusa dan seterusnya, maka pintu akan dibukakan bagimu, sebab pihak yang “mengetuk” percaya dan berada pada satu keyakinan bahwa ia memiliki Tuhan yang baik dan senantiasa siap menjawab doanya.

3. Doa: Keyakinan bahwa Tuhan siap menjawab dan memberi

Beriman adalah kemampuan meyakini atau mempercayai sesuatu yang tidak dilihat atau dipahami. Doa adalah buah dari iman, di dalamnya orang percaya menyerahkan diri dan menyatakan permohonan kepada Tuhan. Keberadaan diri sebagai manusia terungkap melalui doa itu, di sana dicetuskan adanya ketergantungan kepada tuhan dan cetusan-cetusan hati itu menjadi gambaran bahwa orang percaya membutuhkan Tuhan. Bertolak dari pemahaman yang sedemikian, doa terbangun menjadi sesuatu yang menyatu dengan hidup itu dengan satu keyakinan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang siap menjawab setiap doa. untuk meyakinkan orang-orang percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang siap menjawab doa adalah dengan mengangkat realitas kehidupan dari hidup manusia itu sendiri: “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular jika ia meminta ikan. Artinya, Tuhan mengethui apa kebutuhan orang yang memohon kepadaNya, sehingga apapun yang dimohonkan kepadaNya dipastikan akan diberikan. namun harus diingat bahwa Tuhan lebih tahu kapan waktu yang tepat di dalam menjawab permohonan itu. Yang pasti bahwa Tuhan adalah Tuhan yang siap menjawab dan memberi. jika manusia mampu memberi yang terbaik bagi anaknya, apalagi dengan Tuhan? meyakinkan diri sendiri bahwa Tuhan siap menjawab dan memberi merupakan langkah terbaik sebelum mencetuskan doa kehadapanNya.

 

APLIKASI.

1. Doa adalah bagian integral dari kehidupan gereja (orang percaya), dan doa itu bagaikan nafas bagi seseorang. Orang percaya tanpa doa ibarat tubuh tanpa nafas. Nas firman ini mengajak setiap orang percaya untuk semakin menyadari betapa pentingnya doa dalam hidupnya. urgensinya adalah bahwa diri orang percaya adalah diri atau pribadi yang lemah dan penuh keterbatasan, ia butuh dampingan dan campur-tangan Tuhan. Hidup ini menjadi tidak punya arti jika terlepas dari campur-tangan Tuhan. Doa adalah permohonan, sarana mengundang dan menghadirkan Tuhan, sehingga kepribadian yang lemah dan terbatas itu terjembatani melalui cmapur-tangan Tuhan, dan pada akhirnya hidup orang percaya menjadi berarti dan berguna bagi dirinya dan juga orang lain.

2. Hidup dalam doa mesti menjadi identitas orang yang percaya yang sudah terbina sejak dini, tanpa mengenal batas-batas usia. Budaya berdoa menjadi sesuatu kuat berakar dalam persekutuan orang percaya, sehingga dalam situasi apapun doa menjadi pondasi yang kuat yang tahan terhadap goncangan, sehingga bangunan “iman” itu tetap berdiri kokoh. Doa itu menjadi semacam “senjata” berhadapan dengan musuh, dan menjadi semacam “benteng” (perisai) dalam menghadapi situasi tersulit sekalipun. Kehidupan orang percaya tanpa doa dipastikan rapuh, terombang-ambing dan tidak menghasilkan sesuatu yang berguna. Oleh karena itu, identitas ini jangan sampai tersamar atau tertutup oleh kepentingan-kepentingan sesaat lainnya.

3. Hidup dalam doa dipastikan bukan sesuatu yang mudah, sebab berhasil tidaknya sebuah doa tidaklah terletak ditangan orang yang berdoa, melainkan di tangan Tuhan. Oleh sebab itu, baiklah setiap orang percaya memegang teguh prinsip berdoa: meminta, mencari dan mengetok, sebab Tuhan dipastikan memberi dan menjawab walaupun pada akhirnya tuhan lebih tahu waktu yang tepat untuk memberi dan menjawab doa itu. Dan sebelum berdoa, meyakinkan diri bahwa Tuhan mendengar, menjawab doa itu adalah tindakan yang benar, sehingga doa itu tidak sekedar terucap melainkan menyatu dan h idup dalam diri orang yang berdoa. jadilah menjadi pribadi yang berdoa, sebab Tuhan ada disana untuk mendengar dan menjawab doamu, Amin.

Sumber: Pms-sp-limun-mdn, Suara Gkpi, No: 45/04/2013, Edisi April 2013, Hal : 52-54

1 Comment

  1. Likson Simanjuntak says:

    Saya sangat bangga dengan website dari gereja GKPI Batam Sion i. saya jadi tertarik untuk buat website bagaimana caranya? mauliate amang. Tuhan Yesus memberkati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *