Khotbah Minggu 28 April 2013 (Kantate)

KHOTBAH MINGGU 28 APRIL 2013 (KANTATE)

THEMA : KABAR BAIK UNTUK BANGSA-BANGSA

KISAH PARAH RASUL 11 : 15 – 18

 

PENDAHULUAN

Selisih pendapat antar sesama orang percaya khususnya antara Petrus dengan orang percaya dari golongan yang bersunat, adalah pristiwa penting untuk memahami teks renungan minggu ini. (Kisah PR 10:1-2) Persoalannya adalah tentang penerimaan orang-orang Non Jahudi yang tidak bersunat menjadi pengikut Kristus. Petrus yang dalam pelayanannya menerima orang-orang non Jahudi, dicecar dengan pertanyaan pertanyaan menyudutkan, dari golongan yang mempertahankan sunat tersebut. Bagi mereka menjadi pengikut Kristus harus terlebih dahulu melalui proses penyunatan.

Petrus menjelaskan duduk masalahnya, bahwa peristiwa itu tidak datang dari keinginan dan rencananya sendiri, tetapi bermula dari petunjuk Tuhan yang Petrus respon secara terbuka. Setelah mengikuti petunjuk tersebut maka tidak ada jalan lain kecuali melakukannya seperti yang diarahkan oleh petunjuk dari Tuhan tersebut. Ceritanya dimulai dari penampakan Malaikat Tuhan kepada Cornelius seorang perwira pasukan Italia seorang yang saleh dan keluarganya juga adalah keluarga yang takut akan Tuhan. Keluarga ini tinggal di Kaisarea.  Malaikat itu mengatakan kalau doa dan sedekahnya telah sampai kepada Tuhan, kemudian malaikan itu menyuruhnya untuk menjemput Simon yang disebut Petrus. Malaikat juga memberitahukan kalau Simon sedang menumpang di rumah Simon penyamak kulit dekat laut di Yope. Maka Cornelius menyuruh 3 orang menemui Petrus ke alamat yang dituju, Petrus baru saja mendapat penglihatan, tentang binatang-binatang yang haram yang disuruh Tuhan untuk dimakan. Tiga kali Tuhan menyuruh Petrus untuk memakannya, namun Petrus menolak karena binatang-binatang itu adalah binatang-binatang yang haram. Ketika Petrus masih memikir-mikirkan perkara itu ada yang mengetok pintu dan mencarinya. Ternyata mereka adalah tiga orang utusan Cornelius dari Kaisarea.

Percakapan antara Petrus dan utusan pun berlangsung untuk saling meyakinkan karena tidak mudah menemui perwira atau berurusan dengan militer, sehubungan dengan penganiayaan yang terus dilancarkan kepada pengikut Kristus. Rasa curiga ditemui apalagi oleh perwira tentu membutuhkan persiapan mental. Petrus etuju untuk berangkat ke Kaisarea menjumpai Cornelius. Sesampainya di sana terjadilah peristiwa berikut ini.

 

PENJELASAN TEKS

Ayat 11:15 Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.

1. ketika aku (Petrus) mulai bicara.

Pertemuan ini bukan suatu kebetulan, ataupun rencana atas keinginan para pelaku. Dari dua peristiwa yang mendahuluinya yakni: Kedua orang percaya yang sangat berbeda ini memiliki kepekaan yang sangat baik dalam merespon petunjuk dari Tuhan. Meskipun mereka belum saling mengenal, tetapi kepekaan mereka berdua menjadi pemantik peristiwa yang ketiga dalam kasus ini yakni turunnya Roh Kudus.

2. Turunlah Roh Kudus.

Petrus menceritakan turunnya Roh Kudus atas mereka sama seperti dulu. Artinya sebagaimana Roh Kudus pada pertama kali dicurahkan (Kisah 2:3) di atas kepala mereka. Demikian juga yang terjadi saat petrus yang baru tiba di Kaisarea tersebut saat berbicara dengan Cornelius. Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka, artinya pencurahan ini bukan hanya untuk Cornelius tetapi juga kepada : a. Anggota Keluarga Cornelius (Keluarga Cornelius adalah keluarga yang takut akan Tuhan 10:2). b. Bersama mereka juga adalah para penjemput yang diutus Cornelius ke Yope (45km). Mereka bertiga telah dapat meyakinkan Petrus sehingga Petrus mengikuti penjelasan mereka. Tentu disepanjang jalan dari Yope menuju Kaisarea sepanjang 45 Km itu adalah saat yang sangat tepat bagi mereka bertukar cerita. c. Selain kedua utusan ini pasti masih ada ajudan lain yang tinggal bersama dan menjadi pengawal Cornelis. Mereka semua adalah yang menjadi saksi atas kesalehan dan kedermawanan Cornelius selama ini. Mereka juga orang-orang yang mendapat cerita tentang kunjungan Malaikat beberapa hari sebelumnya. Mereka-mereka inilah yang berkumpul saat itu, saat dimana Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka sama seperti pada pertama kali peristiwa PENTAKOSTA yang lalu.

3. Cornelius dan beserta semua orang yang dianugerahi Roh Kudus menjadi Pintu Gerbang pemberitaan Injil bagi daerah dimana mereka tinggal.

Ay.16 Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Bandingkan dengan Markus 1:8 sebagaimana Yohanes pembabtis katakan karena dirinya tau sebagai seorang pendahulu yang dibelakangnya sudah hadir Kristus yang akan membabtis dengan Roh. Pencurahan Roh Tuhan kepada bangsanya sudah lama dinubuatkan Yesayas di Yesaya 44:3 Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. Bahkan lebih rinci kita baca di Yoel 2:28. Saat kita memandang peristiwa-peristiwa di sekitar kuasa Tuhan maka akan kita lihat bahwa itu adalah bagian dari Janji sebagaimana ia  pernah ucapkan.

Ay.17 bagaimana mungkin aku menentang bila Allah juga sudah mencurahkan kasih karunia-Nya seperti Roh Kudus yang kita terima. Menentang Allah? Memang sulit memahami kedua tokoh yang beraliran keras ini.

Cornelius adalah seorang Perwira tentara Italia. Sebagai seorang Perwira tentu itu ditempuh lewat pengalaman mengerikan di pertempuran-pertempuran yang membunuh- menghancurkan merampas harta dll. Tetapi dibalik semua ini dia disebut 1. Orang yang salah. 2. Orang yang mampu memimpin keluarganya menjadi keluarga yang takut  dihadapan Tuhan. 3. Orang senantiasa berdoa. 4. Bahkan orang yang memberikan sedekah jati dirinya yang kontroversial ini membuat ia peka mendengar perkataan Malaikan yang mengunjunginya, serta dengan segera menyuruh bahwannya menjemput Petrus sebagaimana Petunjuk Malaikat itu.

Petrus juga adalah sosok yang keras dan spontan. 1. Menentang Yesus saat pertama kali diberitakan penderitaan yang akan dilaluinya. 2. Menggunakan pedang saat Tuhan Yesus terancam di Getsemane. 3. Menyangkal Yesus yang sedang diadili, 4. Bahkan menolak saat binatang-binatang haram diperhadapkan kepadanya untuk dimakan. Tetapi saat memikir-mikirkan akan penglihatan tersebut disusul kehadiran utusan Cornelius Petrus melihat tuntunan Tuhan dan memberikan dirinya dituntun meski lewat perjalanan 45 Km antara Yope dan Kaisarea. manusia sekeras apapun, bila sudah mulai memberikan hati untuk Tuhan dan mulai melihat peristiwa di sekitarnya sebagai kuasa Tuhan maka ia akan dipimpin pada peristiwa yang lebih besar serta tidak dapat menentangnya. Itulah sebabnya ketika Petrus melihat Kemurahan Tuhan dicurhkan diantara orang-orang yang tidak bersunat dihadapannya, tidak ada komentar lain selain memahami bahwa peristiwa itu sudah direncanakan Allah bahkan sudah dipesankan sebelumnya. peristiwa itu adalah keinginan Tuhan sebagaimana sebelumnya: Bdk Matius 28:19-20 semua Bangsa akan menjadi murid Tuhan. Kisah 1:8. pemberitaan dimulai dari Yerusalem – Yudea – Samaria  dan sampai ke ujung bumi. Untuk menunjukkan tujuan kedatangannya untuk Tuhan telah ditunjukkan lewat kepeduliannya kepada orang-orang sakit di luar bangsa Israel antara lain:

– Peristiwa yang telah direncanakan ini daidahulukan Tuhan ketika para murid-muridnya masih ragu-ragu untuk menjalankan. Itu sebabnya mereka berselisih pendapat (Kisah 11:2). Peristiwa ini belum mengakhiri perdebatan tentang orang-orang yang tidak bersunat, dikemudian hari paulus juga mendapat tantangan yang demikian dan itulah sebabnya digelar Sinode perdana di Jerusalem (Bdk Kisah 15:2,5)

Tuhan mendahulukan agar menjadi tuntunan kepada para murid dalam menjalankan tugasnya. Sama halnya dengan paulus yang mendapat penglihatan kalau Tuhan meminta dia mendahulukan daerah Eropa Kisah P.R 16:9-10.

Ay.18 Setelah mendengar penuturan itu (yang tadinya berdebat) segera menjadi tenang, lalu bersama memuliakan Allah kata mereka: jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”

1. Setelah mendengar:

Saudara-saudara seiman yang tadinya terjadi salah paham sebelum mereka mendengar penjelasan Petrus dan setelah mereka mendengar maka terjadilah perubahan pikiran yang kemudian menyusul perubahan sikap (Roma 10:14) bahkan perubahan suasana yakni memuji Tuhan. Setajam apapun perbedaa pendapat pasti akan dapat diselesaikan dengan sukacita bila kita masih mau duduk bersama dan saling mendengar. Bangsa Israel menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus karena mereka tidak mau mendengar. pintu hati mereka telah tertutup dan telinga mereka berat mendengar. Banyak orang Kristen yang sudah dibajak iblis pendengarannya sehingga tidak mau mendengar sesama, tidak mau mendengar kata hati, bahkan tidak mau mendengar Tuhan sekalipun.

2. Tuntunan Tuhan.

Saat mereka saling mendengar sebagaimana tuntunan Tuhan kepada Cornelius dan keluarganya dan bagaimana tuntunan kepada Petrus mulai dari Yope dan bagaimana tuntunan Tuhan kepada para penjemput yang berjalan kaki sejauh 45Km dari kaisarea ke Yope, saat mendengar ini; hati mereka juga dituntun hingga mereka sampai ke suatu puncak pemahaman bersama sebagai mutiara dari pertemuan tersebut “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” Tanpa tuntunan Tuhan pengetahuan apapun yang kita miliki tidak mungkin dapat kita aplikasikan demi kemuliaan Tuhan. Tanpa tuntunan Tuhan ilmu apapun itu cenderung akan merusak pikiran kita sendiri dan juga merusak sesama manusia.

 

RENUNGAN

Dari pembahasan di atas beberapa point menjadi renungan kita semua antara lain :

Rencana Tuhan pada dasarnya adalah untuk menyelamatkan seluruh dunia, misalnya dari panggilan Abraham (Kejadian 12:1-3 yakni menjadi Berkat bagi bangsa-bangsa). Demikian juga bangsa Israel dipanggil Tuhan agar semua bangsa mengenal Tuhan dari keberadaan mereka. Yes 42:6, 49:6 menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Kegagalan bangsa Israel sebagai terang dan berkat untuk bangsa-bangsa kemudian dipertegas dalam misi keselamatan Yesus Kristus. Namun kita juga melihat bagaimana keraguan para murid melaksanakan tugas ini. pertengkaran, saling curiga menunjukkan keragu-raguan mereka yang sangat tinggi. Meskipun firman Tuhan sudah sedemikian jelas tetapi keragu-raguan menjadi batu sandungan karena persepsi yang mereka bangun dari kepercayaan yahudian yang sangat kental.

Gereja berdiri atau orang Kristen dipanggil (Ekklesia) menjadi satu persekutuan adalah dalam rangka menjangkau orang-orang diluar Persekutuan itu. Jadi orang percaya atau gereja yakni pelayan dan warga jemaatnya:

1. Tidak boleh menjadi konsumeris Injil, yang menyenangkan diri sendiri.

2. Program utama gereja adalah menjangkau mereka-mereka yang masih jauh.

3. Perhatian gereja harus dimulai dari penginjilan dan diakonia tanpa syarat. Oleh semua orang percaya.

Kini Gereja lebih banyak bekerja untuk organisasinya dan semakin sedikit yang memperhatikan penginjilan dan diakonia keluar dari gerejanya. Itu sebabnya ratusan suku bangsa yang ada disekitar kita belum mendengar Injil. Pekabaran injil tidak lagi menjadi pesta sukacita saat seseorang kita tuntun kepada Kristus. penginjilan sudah menjadi beban berat seperti tidak mungkin lagi dilakukan oleh orang-oran gereja. Jangkan keluar dinding gereja, masyarakat Kristen disekitar kitapun banyak yang harus diinjili lagi.

Hal ini semakin sulit karena kita memang sulit mendengar tetapi lebih suka didengar. Sulit mendengar firman Tuhan. Ada banyak orang menyampaikan firman dalam berbagai kesempatan tanpa mendengar Suara Tuhan dalam hatinya. Ada banyak orang lebih banyak berdebat untuk saling mengalahkan dalam persekutuan Gereja, karena kurang mampu untuk mendengar. Mendengar pendapat orang, mendengar penilaian orang, apalagi tegoran orang lain adalah hal yang sangat berguna dalam pertumbuhan iman setiap orang percaya. Kita butuh tuntunan Roh Kudus dan untuk tuntunan ini dibutuhkan kepekaan Rohani agar kita dapat menindak lanjuti kehendak Tuhan hingga kita sampai pada kesimpulan. kalau Tuhan mnunggu kita untuk digunakan demi keselamatan orang lain. karena untuk itu kita dipanggi, Shalom.

Sumber : Pdt. Wilson GP LumbanTobing STh, Suara Gkpi, No: 45/04/2013, Edisi April 2013, Hal : 49-51

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *