Khotbah Minggu 14 April 2013 (Misericardias Domini)

KHOTBAH MINGGU 14 APRIL 2013 (MISERICARDIAS DOMINI)

THEMA : YESUS ADALAH GEMBALA YANG SEJATI

MATIUS 9:35-38

 

PENDAHULUAN

Tugas sebagai gembala adalah suatu panggilan tugas yang mulia. Alkitab sendiri mengartikan kata gembala dengan menunjuk kepada 2 bagian, yaitu yang pertama adalah orang yang menggembalakan ternak. Kedua, adalah orang yang mengasuh dan membina manusia, yaitu gembala yang bersifat ilahi (setia, sejati) dan gembala yang bersifat fana (gembala yang tidak bertanggung jawab). meskipun tugas panggilan sebagai gembala adalah tugas yang mulia, terdapat juga para gembala yang tidak setia terhadap tugasnya. Ketidaksetiaan seorang gembala pada tugasnya akan menyebabkan dampak yang sangat buruk, khususnya bagi domba yang dijagai atau orang yang digembalakan. Khususnya dalam kehidupan gereja, dimana penggembalaan menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Ketika para gembala dalam gereja tidak setia melakukan tugas panggilannya, maka orang-orng yang digembalakan akan hidup di dalam ketidakaturan. Ketidakaturan yang terjadi di dalam gereja pastilah menyebabkan hilangnya fungsi ataupun peran gereja di tengah-tengah dunia.

 

PENJELASAN NAS :

Injil Matius adalah kitab yang menekankan Perjanjian Lama secara khusus. Kehidupan dan pengajaran Yesus disajikan sebagai penggenapan janji-janji yang dibuat Allah kepada Israel. Kitab injil Matius juga menyajikan suatu kesinambungan antara pengajaran Yesus dengan Perjanjian Lama. hal ini terlihat jelas dalam evangelium dan epistel di minggu ini, dimana peran penting gembala menjadi hal yang sangat penting dalam tugas pelayanan mulai dari zaman perjanjian lama hingga sampai kepada Perjanjian Baru. Yesus dalam pelayananNya juga sangat menyoroti peran penting dari seorang gembala.

Matius 9:35-38 menceritakan tentang belas kasihan Yesus kepada orang banyak. Orang banyak yang menjadi objek perhatian Yesus ketika itu adalah orang-orang yang hidup dalam kterpurukan, orang-orang yang termarjinalisasi, hidup di dalam ketidakpedulian khususnya dari orang-orang yang seharusnya memperhatikan kehidupan mereka. Ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam evangelium Matius ini, yaitu:

1. Ayat 35: Dari ayat ini kita mengetahui bahwa pelayanan yang dilakukan Yesus adalah pelayanan yang bersifat holistik atau menyeluruh. Hal ini terlihat dari perjalanan pelayanan Yesus yang melingkupi daerah kota dan desa. Dalam arti, Yesus melakukan pelayanan dan pengajarannya mencakup tidak hanya di daerah-daerah tertentu tetapi itu dilakukan kepada orang-orang yang berada di kota dan di desa. Dapat diketahui bahwa pelayanan dan pengajaran Yesus yang holistik dan menyeluruh terlihat dari “Ia mengajar dan memberitakan injil Kerajaan Sorga” dan hal ini diwujudnyatakan pada “Ia melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” Berdasarkan pelayanan dan pengajaran yang telah dilakukan Yesus, dapat diketahui bahwa hal itu tidak dapat ditunjukkan hanya dengan pelayanan/pemberitaan secara verbal/lewat kata-kata, melainkan harus dilengkapi melalui pelayanan aksi atau harus dilengkapi dengan tindakan. Sehingga, setiap gembala haruslah dapat mengikuti pola-pola pelayanan yang telah dikerjakan Yesus terleih dahulu. Melakukan tugas penggembalaan atau pelayanan secara holistik dan menyeluruh, dan juga tidak hanya cukup dengan kata-kata, tetapi juga dalam aksi ataupun tindakan. Berdasarkan pelayanan Yesus, juga jelas diketahui bahwa tujuan pelayanan ataupun penggembalaan yang harus dilakukan seorang gembala adalah kepada orang-orang yang lemah dan orang-orang yang sakit, baik secara jasmani/fisik maupun secara rohani.

2. Ayat 36: Belas kasihan, merupakan suatu hal yang penting untuk memicu berjalannya suatu tugas pelayanan. Hal ini terlihat jelas ketika Yesus melihat, memperhatikan kehidupan orang banyak pada waktu itu. Keberadaan orang-orang yang lelah dan terlantar, inilah yang menimbulkan belas kasihan Yesus. Keberadaan orang-orang yang terlantar menggambarkan kondisi kehidupan orang-orang yang tidak berdaya dan tidak lagi memiliki kekuatan apapun untuk menjalani kehidupannya. Orang-orang seperti inilah yang langsung menjadi korban ketika ketidakadilan terjadi dengan semena-mena. keberadaan orang-orang yang lelah terlantar adalah menggambarkan kondisi kehidupan dari orang-orang yang kehilangan arah atau tujuan dalam hidupnya. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti penindasan struktural yang terjadi, adanya sistem yang berlaku dan hanya menguntungkan pihak-pihak penguasa dan berbagai alasan lain yang terus menekan kondisi kehidupan dari orang-orang yang kehilangan arah dan tujuan hidup. Pengajaran Yesus hendak memberitahukan bahwa kepada orang-orang yang lelah dan terlantar inilah sangat dibutuhkan pelayanan yang benar-benar menggembalakan, yang benar-benar ada untuk menjawab setiap kesusahan dan pergumulan hidup yang mereka hadapi. Yesus mengenal secara benar dan sangat memahami konteks kehidupan dari orang-orang yang menjadi tujuan pelayanannya. Pengenalan dan pemahaman yang benar terhadap konteks pelayanan-lah yang memampukan setiap gembala untuk berbelas kasihan dalam menjalankan pelayanannya.

3. Ayat 37-38: Yesus mengatakan kepada para murid bahwa, “Tuaian memang banyak, tetapi yang menjadi pekerja adalah sedikit.” Perkataan Yesus ini adalah realita yang terjadi  pada waktu itu. Jumlah pekerja atau jumlah orang-orang yang mau dan bersedia menjadi seorang gembala atau pemimpin yang siap menggembalakan atau memimpin orang-orang yang sakit, lemah, lelah dan terlantar memanglah belum banyak. akan tetapi, yesus kepada para murid untuk meminta kepada “Tuan” yang memiliki tuaian, supaya mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian tersebut. Hal yang dimaksud adalah, Allah-lah yang memiliki tuaian itu, dan Allah jugalah yang berhak memanggil para pekerja untuk mengerjakan tuaian-Nya itu. Berarti, pekerja yang setia ataupun gemala yang setia adalah orang-orang yang benar-benar memaknai pemanggilan Allah untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya.

 

RENUNGAN:

Gereja terpanggil untuk mewujudkan kerajaan sorga di tengah-tengah dunia. Perwujudan itu dapat dilakukan ketika gereja benar-benar ada sebagai jawaban atau solusi atas keberadaan manusia yang hidup di dalam tekanan ataupun yang berada di dalam keterpurukan. Gereja tidak hanya cukup memberikan pengajaran ataupun pemberitaan tentang kerajaan sorga, tetapi gereja harus benar-benar mendampingi orang-orang yang tertindas, yang sakit, yang lemah dan yang terlantar. Karena untuk situasi itulah gereja terpanggil dan diharapkan mampu menjalankan fungsinya di dalam setiap kondisi kehidupan para warganya.

Pertanyaannya adalah apakah gereja telah sungguh-sungguh menjalankan fungsinya di dalam setiap keberadaan umat? Untuk itulah, gereja harus benar-benar membenahi dirinya agar dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Gereja harus dapat menjadi gembala yang sejati, seperti Yesus Kristus yang adalah kepala gereja adalah gembala yang setia dan berbelas kasih.

Sumber : Pdt. Pahot. P. Hutagalung, S.Th,  Suara Gkpi, No: 44/02/2013, Edisi Maret 2013, Hal : 46-48

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *