Khotbah Minggu 3 Maret 2013 (Okuli)

KHOTBAH MINGGU 3 MARET 2013 (OKULI)

THEMA : HADAPILAH UJIAN HIDUP DENGAN KERENDAHAN HATI DAN KEYAKINAN BAHWA BERSAMA TUHAN ADA JALAN KELUAR !

1 KORINTUS 10:1-13

 

PENGANTAR

Saya tertarik dengan bahagian dari pidato marie-Claire Bart-Frommel ini, saat beliau menerima gelar doktor honoris causa-nya (Desember 2011), yang mengangkat pandangan dari sebuah disertasi seorang teolog Indonesia Timur, dan yang dipakai oleh Barth untuk berbicara tentang menghargai budaya lokal sekaligus membicarakan arah-arah berteologi :

Bagi saya sikap seorang nenek Dayak lebih meyakinkan. Cucunya mengeluh: “Nenek, di jalan ke rumahmu ada pohon besar, banyak roh tinggal di situ dan saya takut. Nenek menjawab: “Memang begitu, tetapi roh itu diciptakan oleh Allah, seperti juga engkau dan mereka harus patuh pada Allah. Jadi kalau kau lewat di pohon itu, berdoa sajalah: Ya Tuhan Allah, lindungilah saya”, dan roh manapun tidak dapat berbuat apapun kepadamu”.

Memang, kita membutuhkan cakrawala yang luas, bagaimana bersikap yang terbaik, yang injili, yang positif sekaligus bersifat membimbing, terhadap nilai-nilai budaya dan modernitas. Bimbingan itu perlu terus diberikan oleh gereja terhadap umat, yang menghadapi pertanyaan-pertanyaan sejenis itu dalam keseharian hidup mereka, akibat perjumpaan dengan nilai-nilai budaya, modernitas dan paham-paham agama-agama lainnya.

 

TAFSIRAN 1 KORINTUS 10:1-13

Rasul Paulus, sebagaimana tampak dalam teks ini, memberikan bimbingan kepada orang-orang percaya di Korintus, dengan mengingatkan mereka kepada peristiwa Keluaran (eksodus) dari Mesir yang dialami orang Israel, nenek moyang rohani orang-orang Kristen. “Awan”, “Manna”, “Air dari batu karang” (Ay.1-4), adalah tanda-tanda yang besar tentang kehadiran dan penyertaan Tuhan kepada bangsaNya dalam perjalanan padang gurun itu. Tuhan, melalui tiang awan telah menuntun perjalanan mereka, menunjukkan jalan mereka dan melindungi mereka pada saat-saat yang gelap (Kel. 13:21; 14:19). Mereka telah dipimpinNya menyeberangi Laut Teberau/Laut Merah (Kel.14:19-31). Melalui kedua peristiwa keluaran ini (Tiang awan dan penyeberangan laut), umat Israel mengalami persatuanĀ  yang sempurna dengan Musa (ay.2), sehingga dapat dikatakan bahwa mereka telah dibaptiskan kepada Musa, seperti halnya orang Kristen dibaptiskan ke dalam Kristus (ay.4). Orang Israel telah memakan “manna” di padang gurun (Kel 16:11-15). Pada ayat 4 Paulus mengatakan “Mereka minum dari batu rohani yang mengikuti mereka” (ay.4). Kita dapat membaca Bilangan 20:2-11 yang berbicara tentang bagaimana Tuhan memampukan Musa untuk mengeluarkan air dari bukit batu. Tetapi di sini dikatakan tentang “batu rohani yang mengikuti mereka” (ay.4). Rupanya Paulus mengambilnya dari tradisi rabbinik (yang populer pada zaman Paulus) yang mengatakan bahwa aliran air mendampingi orang-orang Yahudi di padang gurun, atau bahwa sebuah sumur yang digunakan untuk minum mengikuti mereka di dalam perjalanan mereka.di padang gurun. Sungguh luar biasa. ini semua adalah keistimewaan yang dipunyai oleh umat Israel, yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka, dalam peristiwa keluaran itu, sebagai tanda kehadiran dan penyertaanNya terhadap Israel.

Akan tetapi tanda-tanda itu tidak menjamin dan meluputkan orang-orang Israel terhadap amarah Allah. Mereka yang telah mendukakan dan melawan Allah tetap dihukum. Kita dapat melihat bahwa kecuali Yosua dan Kaleb, tidak ada orang Israel yang keluar dari Mesir itu yang masuk ke tanah Kanaan (Bil.14:30-32). Itulah penghukuman Allah kepada mereka yang tidak setia, yang jumlahnya begitu banyak. Demikian juga mereka yang menyembah patung lembu ketika Musa menghadap Tuhan, mereka dihukum Tuhan (Kel.32:1-35) Atau, ketika orang-orang Israel bersalah karena melakukan perzinahan dengan perempuan-perempuan Midian dan Moab dan turut menyembah allah mereka, berakibat ribuan orang mati (ay.8,bdk.Bil25:9). Ketika Korah, Datan dan Abiram memberontak, penghakiman dikenakan kepadanya dan pengikutnya (Bil. 16:1-50).

Rasul Paulus menceritakan kisah itu sebagai contoh (ay. 6, 11; bdk. Roma 15:4; II Timotius 3:16), dan meminta orang-orang percaya di Korintus menarik pelajaran rohani dan peringatan dari leluhur rohani mereka itu bahwa walaupun umat Tuhan, Israel, menikmati keistimewaan yang diberikan Tuhan melalui kehadiran dan penyertaanNya dalam hidup bangsa itu, hal itu tidak menjamin bahwa orang percaya akan aman ketika pencobaan menyerang. Seperti orang Israel di padang gurun, orang percaya di Korintus pun dapat terjebak kepada dosa-dosa seperti yang Israel lakukan :

a. Menjadi penyembah-penyembah berhala (ay.7): Jika tidak hati-hati, orang Korintus dapat terjerumus kepada penyembahan berhala seperti umat Israel dengan lembu emas; dan bahwa tindakan mengutamakan sesuatu di luar Tuhan adalah termasuk kepada cobaan ini.

b. Percabulan/Perzinahan (ay.8): Godaan ini juga sering mengancam manusia, sampai sekarang. Beberapa orang Korintus (1 Kor 6:12-20) terpengaruh oleh hidup asusila lingkungan kafirnya, seperti dilakukan oleh orang Israel terhadap perempuan Moab dan Midian.

c. Mencobai Tuhan (ay.9): Orang Israel dihukum karena mencobai Tuhan, dengan ular berbisa. Ada godaan untuk menganggap Tuhan itu jauh dan mempermainkan belas kasihan Tuhan; menganggap bahwa Tuhan akan selalu mengampuni.

d. Bersungut-sungut (ay.10): Memberontak melawan Allah dan hamba-hambaNya akan dihukum seperti dialami Israel yang memberontak melawan Musa.

Maka hendaknya hal ini dijadikan sebagai peringatan oleh umat Korintus (ay.11). Mereka yang terlalu percaya pada martabatnya hendaknya berhati-hati (ay.12). Menurut Rasul Paulus, pencobaan itu adalah bahagian dari hidup (“pencobaan-pencobaan biasa”, ay. 13) Jadi jangan berpikir bahwa pencobaan akan absen dari hidup. Dan sebenarnya pencobaan bukan untuk membuat kita jatuh tetapi untuk menguji kita, sehingga setelah melaluinya kita akan menjadi lebih kuat. Setiap pencobaan yang menghampiri hidup kita bukanlah sesuatu yang h anya menimpa kita seorang; pencobaan itu tidak unik melainkan sesuatu yang umum. “Tidak dicobai melampaui kekuatanmu” (ay.13): Allah mengetahui keterbatasan kita dan Ia tidak akan mencobai melebihi kemampuan kita. Dan pada pencobaan-pencobaan selalu ada jalan keluar (ay.13). Jadi tidak mesti jatuh (bila menghadapi cobaan), sebab, sekali lagi, ada jalan keluar. Ide dasar dari “jalan keluar” ini diambil dari dunia perang. Tentara yang terkepung tiba-tiba melihat rute yang dapat dilaluinya untuk keluar dari kepungan. Berdasarkan nats ini kita juga bisa mengatakan bahwa pencobaan itu dapat dibedakan antara pencobaan biasa, yang dapat ditanggung manusia, dan pencobaan yang melebihi kekuatan manusia. Pada yang terakhir ini, hanya dengan pertolongan Tuhan sendirilah seseorang manusia dapat menahannya.

 

RENUNGAN :

1. Seperti cerita di awal di mana sang nenek menasihati cucunya, demikianlah kita perlu saling menasihati dan menguatkan bahwa setiap pencobaan dapat kita hadapi dan tanggung, serta meyakini bahwa pada setiap pencobaan, selalu ada jalan keluarnya. Setiap masalah ada jalan keluarnya yang terbaik. Semangat seperti ini dimiliki oleh mereka yang percaya kepada Tuhan. Sebab, Tuhan, kita yakini sebagai Dia, yang setia dan tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatanĀ  kita, dan Ia sendiri memberi kita jalan keluar (ay. 13).

2. Kita dapat belajar dari contoh-contoh dan pengalaman-pengalaman. Contoh yang positif kita ikuti dan contoh yang negatif mari kita hindari. Ini mengandaikan kerendahan hati, untuk sedia belajar dari pengalaman orang lain.

3. Terdapat dua kali kata kamu (/mu), yang menggunakan kata ganti jamak (plural), dalam kalimat “Ia tidak membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (ay.13). Ini hendak menunjukkan bahwa pengalaman mengalami pencobaan itu sesungguhnya tidak sesuatu yang ditanggung satu pribadi/individual saja, tetapi sesuatu yang harusnya ditanggung bersama. Kematian isteri misalnya, adalah juga hal yang dialami oleh yang lainnya, karena itu orang lain seharusnya diingat dan disertakan (melalui berbagi) dalam pengalaman diuji itu (“you collectively can handle”; bdk. Gal.6:2).

Sumber : Pdt. Jhon P.E. Simorangkir (Pendeta Resort Jaya IV), Suara Gkpi, No: 43/02/2013, Edisi Februari 2013,, Hal : 65-67

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *