Khotbah Minggu 14 Juli 2013 (VII Set. Trinitatis)

KHOTBAH MINGGU 14 JULI 2013 (VII SET. TRINITATIS)

THEMA : HATI YANG PENUH HIKMAT

1 RAJA RAJA 3 : 4 – 14

 

1. PENDAHULUAN

Nats ini berbicara tentang penampakan diri Allah kepada Salomo yang terjadi di Gibeon. Di situ addalah tempat yang paling besar, berupa bukit pengorbanan yang sering dipergunakan untuk mempersembahkan kurban bagi Allah. Bahkan tempat itu sanggup menampung seribu korban bakaran yang dipersembahkan Salomo kepada allah. Allah menampakkan diri kepada Salomo melalui mimpi ketika dia sedang tertidur. Allah menampakkan diri kepada Salomo dan memberitahukan bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya. Sebuah kesempatan yang sebenarnya bisa disalahgunakan oleh Salomo. Dia bisa saja meminta kekayaan kepada Allah, tetapi dia tidak memintanya, yang dia minta hanyalah hati yang bisa menimbang perkara untuk menghakimi umatNya dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Apa yang diminta salomo adalah hal yang kelihatannya sangat sederhana tetapi memiliki kesan yang amat dalam.

 

II. PENJELASAN NATS.

Ada 2 hal yang boleh kita lihat dari nats ini, yaitu:

1. Ayat 4 – 10: Salomo meminta hikmat dari Allah dan tidak meminta kekayaan dan kemuliaan.

Hal yang biasa jika kita meminta kekayaan ataupun kemuliaan jika seseorang memberikan kesempatan kepada kita untuk memohonkan satu hal daripadanya. Tetapi Salomo tidak meminta hal yang biasa, dia minta hal yang sederhana tetapi hal itu menjadi hal yang luar biasa. Dia meminta hikmat dari Allah. Dia meminta hal tersebut, karena hal itu sangat dia perlukan dalam melakukan tugasnya sebagai seorang raja.

Sebagai seorang Raja, Salomo harus membuat banyak keputusan dalam hidupnya, hidup bangsanya dan hidup negaranya. Sebagai seorang pemimpin, dia harus bisa memiliki hikmat untuk membedakan perkara yang baik dan yang jahat yang akan terjadi dalam dirinya dan diri rakyatnya. Dan itulah permintaan Salomo, agar Allah memberikan hikmat untuk membedakan perkara yang baik dan yang jahat yang akan dibawakan kepada dirinya. “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan” (Amsal 1:7), Inilah ayat yang mendasari kehidupan Raja Salomo. Dia selalu berusaha untuk hidup takut akan Tuhan, karena dia tahu itulah yang memberikan dia kekuatan untuk menjalani kehidupannya sebagai seorang raja, suami dan sebagai seorang ayah. Bersama Allah, Salomo merasakan adanya kekuatan dalam dirinya untuk melakukan banyak perkara dalam hidupnya.

2. Ayat 11 – 14: Allah memberikan hikmat sekaligus dengan memberikan kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang sebagai tambahannya. Allah memberikan apa yang Salomo minta. Bukan hanya hikmat tetapi Allah juga memberikan bonus baginya berupa kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang. Sungguh luar biasa berkat Allah dalam hidup Raja Salomo. Salomo meminta satu hal yang sangat sederhana, Allah memberikannya ditambah lagi dengan memberikan tiga hal yang sangat luar biasa yaitu kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang. Disinilah kita melihat perbedaan permintaan menurut manusia dan allah. Bagi kita manusia, meminta hikmat adalah hal yang biasa. Tetapi bagi Allah, itu adalah hal yang luar biasa. Bagi kita, meminta kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang adalah hal yang luar biasa, tetapi bagi allah ketiga hal itu yaitu kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang adalah hal yang biasa. Disinilah kita melihat perbedaan pikiran allah dan manusia. Bagi Allah yang paling penting adalah mencari Allah dengan hikmat yang ada, di luar itu, hal-hal lain seperti kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang adalah bonus atau tambahan belaka. Sama dengan yang Allah firmankan dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Yang paling utama bagi Allah adalah mencari Allah dan kebenaranNya, dan hikmat adalah bagian dari Kerajaan Allah dan kebenarannya, yang lainnya kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang adalah bonus atau tambahan yang akan kita peroleh jika kita senantiasa mencari Allah dan kebenaranNya.

 

III. RENUNGAN.

1. Allah menginginkan supaya kita mencari dan meminta hal-hal yang luar biasa dalam hidup. Hal tersebut haruslah kita lihat dari sudut pandang Allah dan bukan sudut pandang kita sebagai manusia, karena sudut pandang Allah berbeda dengan sudut pandang manusia.

2. bagi Salomo yang terpenting dalam hidupnya adalah memperoleh hati yang bisa menimbang perkara yang baik dan yang jahat (hikmat). Itu sangat dia perlukan untuk menunjang kehidupannya sebagai seorang pribadi, sebagai seorang ayah dan terutama sebagai seorang raja. Dia memerlukan hikmat untuk mendukung semuanya itu.

3. Hikmat yang dibutuhkan Raja Salomo, adalah bagian dari kebutuhannya. Sejak dia  hidup bergaul dengan Allah, dia merasakan betapa luar biasanya hidupnya. Dan dia tahu, dengan hikmat yang daripada Allah, itu akan menjadi kekuatan dalam h idupnya untuk selalu melakukan tugas dan pelayanannya dengan hanya mengandalkan Allah di setiap waktu. Dan hikmat itulah yang membuat dia semakin dikenal oleh banyak orang, karena dia adalah Raja yang adil, yang menimbang banyak perkara yang menimpa rakyatnya, bukan mengandalkan kekuatannya sendiri, tetapi dengan selalu bertanya dan belajar dari  Allah untuk menjadi seorang yang berhikmat.

4. Jika kita hanyalah memikirkan tentang kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang, adalah hal yang salah. Selagi masih ada waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita, mari kita alihkan dan arahkan pikiran kita kepada hal yang benar, yaitu: Hikmat, yang di dalamnya bekerja dalam diri kita; lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini.

Sumber : Pdt. Megauli Aritonang, M.Th, Suara Gkpi, No: 47/06/2013, Edisi Juni 2013, Hal : 70-71

Khotbah Minggu 7 Juli 2013 (VI Set. Trinitatis)

KHOTBAH MINGGU 7 JULI 2013 (VI SET. TRINITATIS)

THEMA : HIDUP DALAM HIKMAT DAN KASIH

KOLOSE 4 : 1 – 6

 

Beberapa ahli meyakini kitab ini ditulis oleh Rasul Paulus saat ia berada di dalam penjara. Namun ada yang meyakini bahwa kitab ini ditulis oleh orang lain. Yang meyakini orang lain menulis kitab ini menganggap bahwa penulis kitab ini meyakini bahwa andaikan Rasul Paulus menghadapi keadaan seperti yang ada dalam kita Kolose ini, maka Rasul paulus akan menuliskan hal yang sama sebagaimana yang dipaparkan oleh penulis Kitab Kolose. Dalam konteks kita Kolose ini sedang diperbincangkan tentang hikmat dan pengetahuan. Penulis kitab Kolose mau meluruskan pandangan tersebut bahwa hikmat dan pengetahuan itu haruslah dihubungkan dengan Kristus. Saat hikmat dan pengetahuan tidak dikaitkan dengan Kristus akan melahirkan kebebasan yang lepas kontrol. Oleh sebab itulah dalam kita Kolose ini ada penekanan untuk hidup sesuai dengan Tuhan Yesus Kristus yang telah dikenal melalui pengajaran para rasul.

Kitab Kolose berbicara tentang  Kristus, tentang pelayanan dan penderitaan Paulus, tentang hidup di dalam Kristus. Ini mengartikan bahwa Kolose mau mengatakan bahwa orang yang percaya kepada Kristus mengalami pertobatan serta perubahan tingkah laku. Tingkah laku yang dulu digantikan dengan tingkah laku yang baru yang sesuai dengan apa yang telah Kristus perbuat. Oleh sebab itulah orang percaya telah menjadi manusia baru. Di dalam kemanusiaan yang baru tersebut, hubungan di dalam keluarga, sesama bahkan antara tuan dan hamba juga menjadi sebuah pola yang baru di dalam Kristus Yesus. Itulah yang dapat kita baca di dalam Kolose 4:1 yaitu perlu membaharui hubungan antara tuan dan hamba. Perkataan ini ditujukan kepada tuan, atau orang terpandang ketika itu yang memiliki hamba/budak.

Penulis kita Kolose ini seolah-olah mau mengatakan peribahasa orang Indonesia “diatas langit masih ada langit” dengan menyebutkan kamu juga mempunyai tuan di Sorga. Sebelum ungkapan ini terlebih dahulu wejangan disampaikan kepada para hamba di pasal 3:22-24 yaitu agar hamba bertindak dan bekerja dengan segenap hati dengan motivasi melakukannya bagi Tuhan dan bukan bagi manusia. Namun di pasal 4:1 ditegaskan bahwa para tuan juga adalah hamba dari yang di sorga. Dengan demikian perkataan di pasal 3:22-24 itu juga berlaku bagi yang merasa tuan di dunia ini.

Setiap tuan haruslah memberlakukan orang lain dengan baik yaitu harus bertindak adil dan jujur. Terkadang para tuan memberlakukan hambanya sebagai barang/milik yang bisa diperlakukan semaunya. Seorang tuan terkadang tidak menghargai bawahannya. Setiap orang percaya harus mencamkan firman ini di dalam hatinya: “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan disamping itu akan ditambah lagi kepadamu” (Markus 4:24).

Ay 2-5: Seruan untuk berdoa dan mengucap syukur. Dalam Pasal 1:3-14 juga ada ungkapan syukur dan doa dari penulis kitab ini tentang iman percaya dari pembaca kitab ini. Dilukiskan dalam pasal 1 tersebut bahwa iman mereka berkembang dengan baik dan memohon kiranya Tuhan semakin menguatkan jemaat kolose. Seruan berdoa dan mengucap syukur ini juga adalah sebagai ungkapan untuk selalu menyerahkan hidup hanya kepada Tuhan saja. Hidup berserah kepada pertolongan Tuhan. Ungkapan berjaga-jaga adalah agar umat tidak lengah dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran yang ada di dunia ini. Seruan berdoa juga adalah untuk mendoakan penulis atau para rasul yang sedang mengalami tekanan oleh karena pemberitaan kabar baik. Disini diperlihatkan suatu sikap untuk saling menopang yang satu dengan yang lain. Saling menguatkan dan saling mendoakan. Di ay 5 juga diajak umat untuk hidup penuh hikmat dengan orang orang luar. Sebutan ini tentu hampir sama dengan seruan berjaga-jaga yaitu agar tidak mudah tergoda untuk meninggalkan iman percaya, atau tertarik kepada pengajaran sesat.

Ay 6. Ayat ini menyerukan umat untuk berkata-kata penuh dengan kasih. Dalam 1 Timotius 4:12b, dikatakan jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. Amsal 20:19 Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut. Dengan demikian orang Kristen haruslah:

1. perkataan penuh kasih, artinya suatu perkataan yang penuh dengan keramahan dan didasari oleh kasih setelah dahulu dipertimbangkan dengan matang. Efesus 4:29 mengatakan: Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

2. Dalam berkata-kata haruslah perkataan yang menyampaikan firman, 1 Petrus 4:11a Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; Jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya, Amin.

Dengan memahami hal demikian kita melihat bahwa hidup menjadi Kristen tidak terlepas dari hubungan sesama. Ajaran Kristus memberi tempat kepada hubungan/relasi dari setiap orang. Hal itulah yang terjadi di dalam kehidupan kita keseharian. Orang yang mengaku Yesus sebagai juruselamat adalah manusia baru di dalam Kristus Yesus.

Sumber : Humgu, Suara Gkpi, No: 47/06/2013, Edisi Juni 2013, Hal : 69-70

Khotbah Minggu 30 Juni 2013 (V Set. Trinitatis)

KHOTBAH MINGGU 30 JUNI 2013 (V SET. TRINITATIS)

THEMA : MENGIKUT YESUS TANPA DALIH

MATIUS 8 : 18 – 22

 

Perikop ini berada di dalam bagian kitab Matius yang berkisah tentang tindakan Yesus yang penuh kuasa (Matius 8:1-9:38). Dari tema bagian ini dapat dimaklumi bahwa ada banyak orang yang mengikut Yesus serta tercengang dengan berbagai mujizat serta pengajaran yang disampaikan oleh Yesus. Oleh sebab itulah banyak orang yang mengelilingi Yesus. Dengan berbagai tindakan Yesus yang mencengangkan serta sikap Yesus yang tidak memandang siapa yang Ia sembuhkan membuat daya tarik tersendiri.

Orang yang mengikut Yesus pun berasal dari berbagai golongan. Tidak terkecuali dari seorang ahli taurat yang terkesima dengan apa yang diperbuat oleh Yesus. Tentu ada banyak keinginan setiap orang di dalam mengikut Yesus. Dalam kitab ini tidak diperlihatkan tentang apa isi hati setiap orang. Yang disampaikan adalah bagaimana Yesus memberi tanggapan atas keinginan setiap orang di dalam mengikut diriNya. Kitab ini paralel dengan kitab Lukas 9:57-62. Dalam kitab paralelnya ini ada tiga percakapan yang muncul dalam hal kehendak mengikut Yesus. Namun dalam kitab Matius ini hanya ada dua hal:

1. Ay 19-20. Keinginan untuk mengikut Yesus adalah dari dirinya sendiri. Ahli Taurat mengajukan dirinya untuk menjadi murid Yesus dengan mengatakan: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Ahli Taurat menawarkan diri untuk menjadi murid Yesus. Ungkapan ini bisa jadi oleh karena ia terkesan dengan apa yang Yesus perbuat. Penyebutan ia adalah seorang ahli taurat mau mengatakan bahwa kalangan ahli taurat secara umum anti atau berseberangan dengan Yesus Kristus. Namun Yesus Kristus memberi jawaban yang  berbeda: “Serigala memupnyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Arti dari perkataan Yesus ini adalah bahwa mengikut Yesus itu bukanlah hal yang mudah. Yesus mengatakan bahwa dalam mengikut Yesus setiap orang harus rela “terasing” dengan dunia ini. Jika ingin menjadi murid Yesus harus tegas, apakah lebih mengasihi dunia atau tidak. Jika lebih mengasihi dunia maka kita tidak akan dapat menjadi murid Yesus. Dalam 1 Yohanes 2:15 dikatakan: Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Abraham di dalam Ibrani 11 memahami bahwa dirinya hanaylah sebagai perantau yang sedang melintasi negeri asing. Mengikut Yesus berarti bersiap menanggung kesukaran. Kesukaran itu terjadi karena kita akan mengekang diri kita untuk tidak melakukan yang jahat. Sebab dunia ini menawarkan hal yang indah melalui tindakan yang jahat. Dalam 2 Timotius 2:3 Paulus mengatakan kepada Timotius: ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.”

2. Ay 21-22. Dalam Lukas 9:25 lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku.” Dalam bagian ini Yesuslah yang mengajak. Jawaban dari orang yang diajak tersebut adalah: “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” Orang Yahudi memiliki kebiasaan mengadakan upacara penguburan selama 7 hari. Jadi seseorang ini ingin memberi penghormatan kepada orang tuanya yang baru meninggal. Namun Yesus memberi jawaban yang berbeda: “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka. Nas ini semakna dengan Matius 10:37 dikatakan: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku”. Perkataan Yesus ini seolah olah bertentangan dengan apa yang disampaikannya di dalam markus 7:10-12. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban — yaitu persembahan kepada Allah –, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya. Yang mau disampaikan Yesus adalah kasihilah Tuhan lebih dari yang lain. Membaca kitab Lukas 9:61-62 ini juga berkaitan dengan yang kedua yaitu lebih mendahulukan yang mana? Prioritas utama adalah mengikut Yesus Kristus.

 

RENUNGAN.

Yang menarik dari nas ini adalah tentang tuntutan Tuhan menjadi murid Yesus. Menjadi murid Yesus bukanlah hal yang mudah dan gampang. Saat seseorang memutuskan untuk mau ikut Yesus, sejatinya di dalam dirinya sudah ada pengertian bahwa mengikut Yesus membutuhkan sebuah ketegasan dan ketetapan hati. Mengikut Yesus itu mengatasi semua keajaiban lain dan bahwa hal ini mungkin mencakup pemutusan ikatan keluarga. Ungkapan ini mau mengajak setiap orang untuk merefleksi betapa penting dan seriusnya menjadi murid.

Namun sikap ini terkadang diplintir seseorang dengan mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan dirinya sendiri atau untuk kemuliaan sang pemimpin bukan kemuliaan Tuhan. Dalam hal ini setiap orang perlu mengkritisi akan sikap radikalisme yang membuta.

Yesus Kristus menghendaki bahwa kita adalah tunduk hanya kepada allah Bapa semata. yesus Kristus tidak memusatkan segala sesuatu kepada diriNya tetapi kepda Bapa. Yesus berupaya menyembunyikan keilahianNya, bahkan saat seseorang mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Yesus mengatakan bagar orang tersebut tidak menyebarkannya.

Mengikut Yesus adalah suatu panggilan. Yesus memanggil setiap orang dengan demikian maka setiap orang membuka diri untuk panggilan Tuhan di dalam hidup kita. Setiap orang yang mengikut yesus harus menyangkal diri, pikul salib dan ikut Yesus.

Sumber : Pdt. HUM Gultom, STh, Suara Gkpi, No: 47/06/2013, Edisi Juni 2013, Hal : 67-68

Khotbah Minggu 5 Mei 2013 (Rogate)

KHOTBAH MINGGU 5 MEI 2013 (ROGATE)

THEMA : HIDUP DALAM DOA

MATIUS 7 : 7 – 10

 

PENGANTAR

Matius pasal 5-7 disebut dengan khotbah di bukit, di sana Yesus mengemukakan beberapa ajaran pokok kekristenan, salah satunya dari pokok ajaran itu adalah tentang doa (Mat. 7:7-10). Mengenai doa ini, Tuhan Yesus telah memperingatkan orang percaya terhadap bahaya kemunafikan doa orang Farisi dan formalitas doa orang yang tidak mengenal Tuhan (Mat 6:5-7), selain itu Tuhan Yesus juga telah memberikan pola doa yang sejati (Mat. 6:9-13). Ajaran tentang doa ini menjadi sangat penting karena doa itu bukan sekedar respons lahiriah, melainkan jawaban atas panggilan dan kemurahan Tuhan Allah. Bagi seseorang yang melakukan doa atau berdoa adalah karena ia meyakini doa itu sebagai perintah dari Tuhan yang disampaikan lewat firmanNya dan perintah itu mesti dijalankan di dalam hidup kesehariannya sebagai pengikut Kristus.

 

PENJELASAN.

1. Doa adalah perintah dan bagian integral kehidupan

kata-kata ini “minta, cari dan ketoklah” jelas merupakan “perintah” dari Tuhan Yesus yang mesti dilakukan secara terus-menerus atau berulang-ulang, bukan sekali atau dua kali saja. Perintah inilah menjadi dasar melakukan doa itu kepadaNya. Di sana diminta kegigihan dan ketekunan di dalam meminta dan mengharapkan sesuatu. Dengan demikian jelaslah bahwa doa itu adalah sesuatu yang diperintahkan (oleh Tuhan Yesus), doa bukan sekedar suatu himbauan yang boleh atau tidak dilakukan, sehingga respon yang diharapkan Tuhan dari orang percaya adalah ketaatan. Artinya, doa itu menjadi bagian integral dari kehidupan orang-orang percaya. Oleh karena itu, setiap orang percaya mesti menyadari bahwa doa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya. Tentunya harus disadari juga jikalau doa itu merupakan perintah Tuhan Yesus, sudah barang tentu bahwa doa sangat penting dalam kehidupan setiap orang percaya. Di balik kegigihan dan ketekunan atau ketaatan seseorang dalam berdoa, Tuhan Yesus menjanjikan: “Karena setiap orang yang meminta akan menerima; setiap orang yang mencari akan mendapat; dan setiap orang yang mengetok, maka baginya pintu akan dibukakan”. Ini bukan sekedar janji, melainkan jawaban pasti terhadap doa itu, artinya bahwa “sesuatu” yang diharapkan itu pasti akan terjadi, dan Allah sebagai pihak yang “berjanji” senantiasa memberikan pemberian-pemberian yang baik. Dan “yang baik” itu pun harus dipandang dari sudut pandang Tuhan Allah, bukan sudut pandang orang percaya. (bdk. Yer. 29:11)

2. Berdoa: Meminta, Mencari dan Mengetok.

a. Meminta.

Doa adalah permintaan, dimana di dalam doa itu ada tindakan “meminta”, sebagai pengungkapan isi hati dihadapan Tuhan. Allah adalah allah yang “mahatahu”, yang mengetahui jiwa dan pikiran manusia, namun hal itu tidak menghalangi orang percaya mengungkap apa saja dihadapan Tuhan, sebab hal mendasar yang diharapkan Tuhan dalam hal “meminta” tersebut adalah sikap keterbukaan memohon kepadaNya. Dari sikap itu, Tuhan mengetahui apa dan bagaimana seseorang meyakini dan mengimani doanya. Tuhan yesus memerintahkan orang percaya “meminta” kepadaNya, sekaligus menjadi dasar dan pertimbangan bagi Allah untuk “memberikan” sesuatu kepada yang meminta. Oleh sebab itu adalah tidak perlu merasa segan mengungkapkan isi hati kepada Tuhan sejauh hal itu bertolak dari iman. Namun perlu diingat bahwa di dalam tindakan “meminta” kepada Tuhan harus disertai sikap “kerendahan hati” bukan arogansi. Itulah sikap yang pantas dalam berdoa, jauh dari kesombongan dan sikap menetahui segala hal. Allah tidak menyukai sikap keangkuhan atau tinggi hati, sebab Ia akan merendahakan orang yang bersikap seperti itu (bdk 23:12). Tindakan “meminta” erat berkait dengan “rendah hati”, doa seperti itu adalah doa yang berkenan kepadaNya, yakni doa yang akan mendapat jawaban sesuai dengan ukuran dan ketentuanNya.

b. Mencari

Dalam doa yang diajarkan Tuhan Yesus, di sana ada satu penggalan kalimat: “Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga” merupakan sebuah indikasi bahwa dalam kehidupan ini yang mesti terjadi adalah kehendak Tuhan, bukan kehendak manusia (orang percaya). Dalam kaitan itu, berdoa adalah bagai sebuah petualangan, di mana seseorang terus menerus mencari, mencari dan mencari. Itu berarti dalam setiap kali berdoa, doa itu tidak selalu terjawab atau terkabulkan. Harus diingat bahwa Tuhan memiliki hak tidak menjawab, menunda atau menolak doa seseorang itu, di samping itu, Tuhan lebih mengetahui tentang diri seseorang daripada seseorang itu tentang dirinya sendiri. manusia pada hakikatnya adalah pribadi lemah dan terbatas, tidak terkecuali orang percaya, ia sangat membutuhkan dampingan dan kekuatan di luar dirinya, yakni Tuhan. Di situlah urgensi sebuah doa, melalui doa ia memohon pertolongan tuhan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Doa merupakan sarana mencari, mencari dan mencari Tuhan dan pertolonganNya. Tindakan mencari jelas bukan tindakan sekali atau duakali, namun berulang-ulang tanpa batas yang ditentukan. Tentu hal ini bukan pekerjaan yang mudah, jangan-jangan sangat melelahkan atau mungkin juga membosankan. Menjawab kemungkinan timbulnya keraguan dan kejenuhan, Tuhan Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang “mencari” dipastikan akan “mendapat”. Artinya pencarian itu akan mendapat jawaban. Dengan demikian, di dalam berdoa, tindakan pencarian bukanlah sesuatu yang sia-sia atau tanpa hasil, melainkan kepastian, di mana jawaban dinyatakan Tuhan. Namun harus dipahami mencari Tuhan dan jawabanNya bukanlah sesuatu yang muedah dikerjakan, melainkan sulit. Kegigihan dan kebulatan tekad adalah salah satu syarat untuk maksud itu. Oleh karena itu, keyakinan akan “mendapat” di dalam tindakan pencarian itu menjadi pendorong utama untuk terus mencari, mencari dan mencari sampai bertemu dengan jawaban itu. Indahnya sebuah doa adalah karena ia terus mencari, mencari dan mencari dan pencarian itu menemukan jawabannya.

c. Mengetuk

Memasuki sebuah rumah yang pintunya tertutup, setiap orang hendaknya masuk dengan mengetok pintu rumah tersebut. Di samping untuk memenuhi tuntutan etika, tindakan mengetok pintu adalah kelaziman masyarakat pada umumnya. Tidak baik memasuki rumah orang jika tidak didahului dengan ketukan pintu. Ketukan pintu itu menandakan bahwa ada seseorang “tamu” yang datang ke rumah tersebut, oleh sebab itu pintu mesti dibuka sehingga sang tamu dapat masuk ke dalam. Jikalau seseorang masuk ke rumah orang lain tanpa ketukan pintu, maka bisa dianggap atau dipahami sebagai “pencuri”. Jikalau rumah itu betul-betul terkunci dari dalam, maka tindakan mendobrak pintu jelas merupakan tindakan kekerasan atau kejahatan. Demikian halnya dengan berdoa, dimana ibarat memasuki sebuah rumah, demikian orang percaya berhadapan dengan Allah Bapa. Diyakini pintu kasih dan anugerah Tuhan perlu diketok supaya dibuka dari dalam dan yang mengetok bisa masuk ke dalam. Oleh sebab itu, tindakan “mengetuk” pintu itu mesti dilakukan secara berulang-ulang sampai pemilik pemilik rumah mendengar dan membukakan pintu itu. Dalam hal berdoa dibutuhkan kesabaran dari pihak “tamu”, sebab kesabaran itu penting, di samping karena pemilik rumah belum mendengar ketukan, pihak pengetok pintu adalah pihak yang paling berkepentingan. Doa bukanlah sesuatu yang langsung jadi (terjawab), dibutuhkan kegigihan “mengetok” pintu pengasihan Tuhan, dan dalam kaitan itu perlu kesabaran pada diri orang percaya. Satu hal yang pasti bahwa ketukan itu pada akhirnya didengar “tuan rumah”, sehingga pintu itu dibukakan dan bisa masuk ke dalam. Itu sebab, dalam hal berdoa, perlu keteguhan hati dan upaya atau usaha yang pantang menyerah. Jangan menyerah pada ketukan ketiga atau keempat, ketuklah berulang-ulang, hari ini, esok, lusa dan seterusnya, maka pintu akan dibukakan bagimu, sebab pihak yang “mengetuk” percaya dan berada pada satu keyakinan bahwa ia memiliki Tuhan yang baik dan senantiasa siap menjawab doanya.

3. Doa: Keyakinan bahwa Tuhan siap menjawab dan memberi

Beriman adalah kemampuan meyakini atau mempercayai sesuatu yang tidak dilihat atau dipahami. Doa adalah buah dari iman, di dalamnya orang percaya menyerahkan diri dan menyatakan permohonan kepada Tuhan. Keberadaan diri sebagai manusia terungkap melalui doa itu, di sana dicetuskan adanya ketergantungan kepada tuhan dan cetusan-cetusan hati itu menjadi gambaran bahwa orang percaya membutuhkan Tuhan. Bertolak dari pemahaman yang sedemikian, doa terbangun menjadi sesuatu yang menyatu dengan hidup itu dengan satu keyakinan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang siap menjawab setiap doa. untuk meyakinkan orang-orang percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang siap menjawab doa adalah dengan mengangkat realitas kehidupan dari hidup manusia itu sendiri: “Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular jika ia meminta ikan. Artinya, Tuhan mengethui apa kebutuhan orang yang memohon kepadaNya, sehingga apapun yang dimohonkan kepadaNya dipastikan akan diberikan. namun harus diingat bahwa Tuhan lebih tahu kapan waktu yang tepat di dalam menjawab permohonan itu. Yang pasti bahwa Tuhan adalah Tuhan yang siap menjawab dan memberi. jika manusia mampu memberi yang terbaik bagi anaknya, apalagi dengan Tuhan? meyakinkan diri sendiri bahwa Tuhan siap menjawab dan memberi merupakan langkah terbaik sebelum mencetuskan doa kehadapanNya.

 

APLIKASI.

1. Doa adalah bagian integral dari kehidupan gereja (orang percaya), dan doa itu bagaikan nafas bagi seseorang. Orang percaya tanpa doa ibarat tubuh tanpa nafas. Nas firman ini mengajak setiap orang percaya untuk semakin menyadari betapa pentingnya doa dalam hidupnya. urgensinya adalah bahwa diri orang percaya adalah diri atau pribadi yang lemah dan penuh keterbatasan, ia butuh dampingan dan campur-tangan Tuhan. Hidup ini menjadi tidak punya arti jika terlepas dari campur-tangan Tuhan. Doa adalah permohonan, sarana mengundang dan menghadirkan Tuhan, sehingga kepribadian yang lemah dan terbatas itu terjembatani melalui cmapur-tangan Tuhan, dan pada akhirnya hidup orang percaya menjadi berarti dan berguna bagi dirinya dan juga orang lain.

2. Hidup dalam doa mesti menjadi identitas orang yang percaya yang sudah terbina sejak dini, tanpa mengenal batas-batas usia. Budaya berdoa menjadi sesuatu kuat berakar dalam persekutuan orang percaya, sehingga dalam situasi apapun doa menjadi pondasi yang kuat yang tahan terhadap goncangan, sehingga bangunan “iman” itu tetap berdiri kokoh. Doa itu menjadi semacam “senjata” berhadapan dengan musuh, dan menjadi semacam “benteng” (perisai) dalam menghadapi situasi tersulit sekalipun. Kehidupan orang percaya tanpa doa dipastikan rapuh, terombang-ambing dan tidak menghasilkan sesuatu yang berguna. Oleh karena itu, identitas ini jangan sampai tersamar atau tertutup oleh kepentingan-kepentingan sesaat lainnya.

3. Hidup dalam doa dipastikan bukan sesuatu yang mudah, sebab berhasil tidaknya sebuah doa tidaklah terletak ditangan orang yang berdoa, melainkan di tangan Tuhan. Oleh sebab itu, baiklah setiap orang percaya memegang teguh prinsip berdoa: meminta, mencari dan mengetok, sebab Tuhan dipastikan memberi dan menjawab walaupun pada akhirnya tuhan lebih tahu waktu yang tepat untuk memberi dan menjawab doa itu. Dan sebelum berdoa, meyakinkan diri bahwa Tuhan mendengar, menjawab doa itu adalah tindakan yang benar, sehingga doa itu tidak sekedar terucap melainkan menyatu dan h idup dalam diri orang yang berdoa. jadilah menjadi pribadi yang berdoa, sebab Tuhan ada disana untuk mendengar dan menjawab doamu, Amin.

Sumber: Pms-sp-limun-mdn, Suara Gkpi, No: 45/04/2013, Edisi April 2013, Hal : 52-54

Khotbah Minggu 28 April 2013 (Kantate)

KHOTBAH MINGGU 28 APRIL 2013 (KANTATE)

THEMA : KABAR BAIK UNTUK BANGSA-BANGSA

KISAH PARAH RASUL 11 : 15 – 18

 

PENDAHULUAN

Selisih pendapat antar sesama orang percaya khususnya antara Petrus dengan orang percaya dari golongan yang bersunat, adalah pristiwa penting untuk memahami teks renungan minggu ini. (Kisah PR 10:1-2) Persoalannya adalah tentang penerimaan orang-orang Non Jahudi yang tidak bersunat menjadi pengikut Kristus. Petrus yang dalam pelayanannya menerima orang-orang non Jahudi, dicecar dengan pertanyaan pertanyaan menyudutkan, dari golongan yang mempertahankan sunat tersebut. Bagi mereka menjadi pengikut Kristus harus terlebih dahulu melalui proses penyunatan.

Petrus menjelaskan duduk masalahnya, bahwa peristiwa itu tidak datang dari keinginan dan rencananya sendiri, tetapi bermula dari petunjuk Tuhan yang Petrus respon secara terbuka. Setelah mengikuti petunjuk tersebut maka tidak ada jalan lain kecuali melakukannya seperti yang diarahkan oleh petunjuk dari Tuhan tersebut. Ceritanya dimulai dari penampakan Malaikat Tuhan kepada Cornelius seorang perwira pasukan Italia seorang yang saleh dan keluarganya juga adalah keluarga yang takut akan Tuhan. Keluarga ini tinggal di Kaisarea.  Malaikat itu mengatakan kalau doa dan sedekahnya telah sampai kepada Tuhan, kemudian malaikan itu menyuruhnya untuk menjemput Simon yang disebut Petrus. Malaikat juga memberitahukan kalau Simon sedang menumpang di rumah Simon penyamak kulit dekat laut di Yope. Maka Cornelius menyuruh 3 orang menemui Petrus ke alamat yang dituju, Petrus baru saja mendapat penglihatan, tentang binatang-binatang yang haram yang disuruh Tuhan untuk dimakan. Tiga kali Tuhan menyuruh Petrus untuk memakannya, namun Petrus menolak karena binatang-binatang itu adalah binatang-binatang yang haram. Ketika Petrus masih memikir-mikirkan perkara itu ada yang mengetok pintu dan mencarinya. Ternyata mereka adalah tiga orang utusan Cornelius dari Kaisarea.

Percakapan antara Petrus dan utusan pun berlangsung untuk saling meyakinkan karena tidak mudah menemui perwira atau berurusan dengan militer, sehubungan dengan penganiayaan yang terus dilancarkan kepada pengikut Kristus. Rasa curiga ditemui apalagi oleh perwira tentu membutuhkan persiapan mental. Petrus etuju untuk berangkat ke Kaisarea menjumpai Cornelius. Sesampainya di sana terjadilah peristiwa berikut ini.

 

PENJELASAN TEKS

Ayat 11:15 Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.

1. ketika aku (Petrus) mulai bicara.

Pertemuan ini bukan suatu kebetulan, ataupun rencana atas keinginan para pelaku. Dari dua peristiwa yang mendahuluinya yakni: Kedua orang percaya yang sangat berbeda ini memiliki kepekaan yang sangat baik dalam merespon petunjuk dari Tuhan. Meskipun mereka belum saling mengenal, tetapi kepekaan mereka berdua menjadi pemantik peristiwa yang ketiga dalam kasus ini yakni turunnya Roh Kudus.

2. Turunlah Roh Kudus.

Petrus menceritakan turunnya Roh Kudus atas mereka sama seperti dulu. Artinya sebagaimana Roh Kudus pada pertama kali dicurahkan (Kisah 2:3) di atas kepala mereka. Demikian juga yang terjadi saat petrus yang baru tiba di Kaisarea tersebut saat berbicara dengan Cornelius. Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka, artinya pencurahan ini bukan hanya untuk Cornelius tetapi juga kepada : a. Anggota Keluarga Cornelius (Keluarga Cornelius adalah keluarga yang takut akan Tuhan 10:2). b. Bersama mereka juga adalah para penjemput yang diutus Cornelius ke Yope (45km). Mereka bertiga telah dapat meyakinkan Petrus sehingga Petrus mengikuti penjelasan mereka. Tentu disepanjang jalan dari Yope menuju Kaisarea sepanjang 45 Km itu adalah saat yang sangat tepat bagi mereka bertukar cerita. c. Selain kedua utusan ini pasti masih ada ajudan lain yang tinggal bersama dan menjadi pengawal Cornelis. Mereka semua adalah yang menjadi saksi atas kesalehan dan kedermawanan Cornelius selama ini. Mereka juga orang-orang yang mendapat cerita tentang kunjungan Malaikat beberapa hari sebelumnya. Mereka-mereka inilah yang berkumpul saat itu, saat dimana Roh Kudus dicurahkan ke atas mereka sama seperti pada pertama kali peristiwa PENTAKOSTA yang lalu.

3. Cornelius dan beserta semua orang yang dianugerahi Roh Kudus menjadi Pintu Gerbang pemberitaan Injil bagi daerah dimana mereka tinggal.

Ay.16 Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Bandingkan dengan Markus 1:8 sebagaimana Yohanes pembabtis katakan karena dirinya tau sebagai seorang pendahulu yang dibelakangnya sudah hadir Kristus yang akan membabtis dengan Roh. Pencurahan Roh Tuhan kepada bangsanya sudah lama dinubuatkan Yesayas di Yesaya 44:3 Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. Bahkan lebih rinci kita baca di Yoel 2:28. Saat kita memandang peristiwa-peristiwa di sekitar kuasa Tuhan maka akan kita lihat bahwa itu adalah bagian dari Janji sebagaimana ia  pernah ucapkan.

Ay.17 bagaimana mungkin aku menentang bila Allah juga sudah mencurahkan kasih karunia-Nya seperti Roh Kudus yang kita terima. Menentang Allah? Memang sulit memahami kedua tokoh yang beraliran keras ini.

Cornelius adalah seorang Perwira tentara Italia. Sebagai seorang Perwira tentu itu ditempuh lewat pengalaman mengerikan di pertempuran-pertempuran yang membunuh- menghancurkan merampas harta dll. Tetapi dibalik semua ini dia disebut 1. Orang yang salah. 2. Orang yang mampu memimpin keluarganya menjadi keluarga yang takut  dihadapan Tuhan. 3. Orang senantiasa berdoa. 4. Bahkan orang yang memberikan sedekah jati dirinya yang kontroversial ini membuat ia peka mendengar perkataan Malaikan yang mengunjunginya, serta dengan segera menyuruh bahwannya menjemput Petrus sebagaimana Petunjuk Malaikat itu.

Petrus juga adalah sosok yang keras dan spontan. 1. Menentang Yesus saat pertama kali diberitakan penderitaan yang akan dilaluinya. 2. Menggunakan pedang saat Tuhan Yesus terancam di Getsemane. 3. Menyangkal Yesus yang sedang diadili, 4. Bahkan menolak saat binatang-binatang haram diperhadapkan kepadanya untuk dimakan. Tetapi saat memikir-mikirkan akan penglihatan tersebut disusul kehadiran utusan Cornelius Petrus melihat tuntunan Tuhan dan memberikan dirinya dituntun meski lewat perjalanan 45 Km antara Yope dan Kaisarea. manusia sekeras apapun, bila sudah mulai memberikan hati untuk Tuhan dan mulai melihat peristiwa di sekitarnya sebagai kuasa Tuhan maka ia akan dipimpin pada peristiwa yang lebih besar serta tidak dapat menentangnya. Itulah sebabnya ketika Petrus melihat Kemurahan Tuhan dicurhkan diantara orang-orang yang tidak bersunat dihadapannya, tidak ada komentar lain selain memahami bahwa peristiwa itu sudah direncanakan Allah bahkan sudah dipesankan sebelumnya. peristiwa itu adalah keinginan Tuhan sebagaimana sebelumnya: Bdk Matius 28:19-20 semua Bangsa akan menjadi murid Tuhan. Kisah 1:8. pemberitaan dimulai dari Yerusalem – Yudea – Samaria  dan sampai ke ujung bumi. Untuk menunjukkan tujuan kedatangannya untuk Tuhan telah ditunjukkan lewat kepeduliannya kepada orang-orang sakit di luar bangsa Israel antara lain:

– Peristiwa yang telah direncanakan ini daidahulukan Tuhan ketika para murid-muridnya masih ragu-ragu untuk menjalankan. Itu sebabnya mereka berselisih pendapat (Kisah 11:2). Peristiwa ini belum mengakhiri perdebatan tentang orang-orang yang tidak bersunat, dikemudian hari paulus juga mendapat tantangan yang demikian dan itulah sebabnya digelar Sinode perdana di Jerusalem (Bdk Kisah 15:2,5)

Tuhan mendahulukan agar menjadi tuntunan kepada para murid dalam menjalankan tugasnya. Sama halnya dengan paulus yang mendapat penglihatan kalau Tuhan meminta dia mendahulukan daerah Eropa Kisah P.R 16:9-10.

Ay.18 Setelah mendengar penuturan itu (yang tadinya berdebat) segera menjadi tenang, lalu bersama memuliakan Allah kata mereka: jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”

1. Setelah mendengar:

Saudara-saudara seiman yang tadinya terjadi salah paham sebelum mereka mendengar penjelasan Petrus dan setelah mereka mendengar maka terjadilah perubahan pikiran yang kemudian menyusul perubahan sikap (Roma 10:14) bahkan perubahan suasana yakni memuji Tuhan. Setajam apapun perbedaa pendapat pasti akan dapat diselesaikan dengan sukacita bila kita masih mau duduk bersama dan saling mendengar. Bangsa Israel menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus karena mereka tidak mau mendengar. pintu hati mereka telah tertutup dan telinga mereka berat mendengar. Banyak orang Kristen yang sudah dibajak iblis pendengarannya sehingga tidak mau mendengar sesama, tidak mau mendengar kata hati, bahkan tidak mau mendengar Tuhan sekalipun.

2. Tuntunan Tuhan.

Saat mereka saling mendengar sebagaimana tuntunan Tuhan kepada Cornelius dan keluarganya dan bagaimana tuntunan kepada Petrus mulai dari Yope dan bagaimana tuntunan Tuhan kepada para penjemput yang berjalan kaki sejauh 45Km dari kaisarea ke Yope, saat mendengar ini; hati mereka juga dituntun hingga mereka sampai ke suatu puncak pemahaman bersama sebagai mutiara dari pertemuan tersebut “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” Tanpa tuntunan Tuhan pengetahuan apapun yang kita miliki tidak mungkin dapat kita aplikasikan demi kemuliaan Tuhan. Tanpa tuntunan Tuhan ilmu apapun itu cenderung akan merusak pikiran kita sendiri dan juga merusak sesama manusia.

 

RENUNGAN

Dari pembahasan di atas beberapa point menjadi renungan kita semua antara lain :

Rencana Tuhan pada dasarnya adalah untuk menyelamatkan seluruh dunia, misalnya dari panggilan Abraham (Kejadian 12:1-3 yakni menjadi Berkat bagi bangsa-bangsa). Demikian juga bangsa Israel dipanggil Tuhan agar semua bangsa mengenal Tuhan dari keberadaan mereka. Yes 42:6, 49:6 menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Kegagalan bangsa Israel sebagai terang dan berkat untuk bangsa-bangsa kemudian dipertegas dalam misi keselamatan Yesus Kristus. Namun kita juga melihat bagaimana keraguan para murid melaksanakan tugas ini. pertengkaran, saling curiga menunjukkan keragu-raguan mereka yang sangat tinggi. Meskipun firman Tuhan sudah sedemikian jelas tetapi keragu-raguan menjadi batu sandungan karena persepsi yang mereka bangun dari kepercayaan yahudian yang sangat kental.

Gereja berdiri atau orang Kristen dipanggil (Ekklesia) menjadi satu persekutuan adalah dalam rangka menjangkau orang-orang diluar Persekutuan itu. Jadi orang percaya atau gereja yakni pelayan dan warga jemaatnya:

1. Tidak boleh menjadi konsumeris Injil, yang menyenangkan diri sendiri.

2. Program utama gereja adalah menjangkau mereka-mereka yang masih jauh.

3. Perhatian gereja harus dimulai dari penginjilan dan diakonia tanpa syarat. Oleh semua orang percaya.

Kini Gereja lebih banyak bekerja untuk organisasinya dan semakin sedikit yang memperhatikan penginjilan dan diakonia keluar dari gerejanya. Itu sebabnya ratusan suku bangsa yang ada disekitar kita belum mendengar Injil. Pekabaran injil tidak lagi menjadi pesta sukacita saat seseorang kita tuntun kepada Kristus. penginjilan sudah menjadi beban berat seperti tidak mungkin lagi dilakukan oleh orang-oran gereja. Jangkan keluar dinding gereja, masyarakat Kristen disekitar kitapun banyak yang harus diinjili lagi.

Hal ini semakin sulit karena kita memang sulit mendengar tetapi lebih suka didengar. Sulit mendengar firman Tuhan. Ada banyak orang menyampaikan firman dalam berbagai kesempatan tanpa mendengar Suara Tuhan dalam hatinya. Ada banyak orang lebih banyak berdebat untuk saling mengalahkan dalam persekutuan Gereja, karena kurang mampu untuk mendengar. Mendengar pendapat orang, mendengar penilaian orang, apalagi tegoran orang lain adalah hal yang sangat berguna dalam pertumbuhan iman setiap orang percaya. Kita butuh tuntunan Roh Kudus dan untuk tuntunan ini dibutuhkan kepekaan Rohani agar kita dapat menindak lanjuti kehendak Tuhan hingga kita sampai pada kesimpulan. kalau Tuhan mnunggu kita untuk digunakan demi keselamatan orang lain. karena untuk itu kita dipanggi, Shalom.

Sumber : Pdt. Wilson GP LumbanTobing STh, Suara Gkpi, No: 45/04/2013, Edisi April 2013, Hal : 49-51

Khotbah Minggu 14 April 2013 (Misericardias Domini)

KHOTBAH MINGGU 14 APRIL 2013 (MISERICARDIAS DOMINI)

THEMA : YESUS ADALAH GEMBALA YANG SEJATI

MATIUS 9:35-38

 

PENDAHULUAN

Tugas sebagai gembala adalah suatu panggilan tugas yang mulia. Alkitab sendiri mengartikan kata gembala dengan menunjuk kepada 2 bagian, yaitu yang pertama adalah orang yang menggembalakan ternak. Kedua, adalah orang yang mengasuh dan membina manusia, yaitu gembala yang bersifat ilahi (setia, sejati) dan gembala yang bersifat fana (gembala yang tidak bertanggung jawab). meskipun tugas panggilan sebagai gembala adalah tugas yang mulia, terdapat juga para gembala yang tidak setia terhadap tugasnya. Ketidaksetiaan seorang gembala pada tugasnya akan menyebabkan dampak yang sangat buruk, khususnya bagi domba yang dijagai atau orang yang digembalakan. Khususnya dalam kehidupan gereja, dimana penggembalaan menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Ketika para gembala dalam gereja tidak setia melakukan tugas panggilannya, maka orang-orng yang digembalakan akan hidup di dalam ketidakaturan. Ketidakaturan yang terjadi di dalam gereja pastilah menyebabkan hilangnya fungsi ataupun peran gereja di tengah-tengah dunia.

 

PENJELASAN NAS :

Injil Matius adalah kitab yang menekankan Perjanjian Lama secara khusus. Kehidupan dan pengajaran Yesus disajikan sebagai penggenapan janji-janji yang dibuat Allah kepada Israel. Kitab injil Matius juga menyajikan suatu kesinambungan antara pengajaran Yesus dengan Perjanjian Lama. hal ini terlihat jelas dalam evangelium dan epistel di minggu ini, dimana peran penting gembala menjadi hal yang sangat penting dalam tugas pelayanan mulai dari zaman perjanjian lama hingga sampai kepada Perjanjian Baru. Yesus dalam pelayananNya juga sangat menyoroti peran penting dari seorang gembala.

Matius 9:35-38 menceritakan tentang belas kasihan Yesus kepada orang banyak. Orang banyak yang menjadi objek perhatian Yesus ketika itu adalah orang-orang yang hidup dalam kterpurukan, orang-orang yang termarjinalisasi, hidup di dalam ketidakpedulian khususnya dari orang-orang yang seharusnya memperhatikan kehidupan mereka. Ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam evangelium Matius ini, yaitu:

1. Ayat 35: Dari ayat ini kita mengetahui bahwa pelayanan yang dilakukan Yesus adalah pelayanan yang bersifat holistik atau menyeluruh. Hal ini terlihat dari perjalanan pelayanan Yesus yang melingkupi daerah kota dan desa. Dalam arti, Yesus melakukan pelayanan dan pengajarannya mencakup tidak hanya di daerah-daerah tertentu tetapi itu dilakukan kepada orang-orang yang berada di kota dan di desa. Dapat diketahui bahwa pelayanan dan pengajaran Yesus yang holistik dan menyeluruh terlihat dari “Ia mengajar dan memberitakan injil Kerajaan Sorga” dan hal ini diwujudnyatakan pada “Ia melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” Berdasarkan pelayanan dan pengajaran yang telah dilakukan Yesus, dapat diketahui bahwa hal itu tidak dapat ditunjukkan hanya dengan pelayanan/pemberitaan secara verbal/lewat kata-kata, melainkan harus dilengkapi melalui pelayanan aksi atau harus dilengkapi dengan tindakan. Sehingga, setiap gembala haruslah dapat mengikuti pola-pola pelayanan yang telah dikerjakan Yesus terleih dahulu. Melakukan tugas penggembalaan atau pelayanan secara holistik dan menyeluruh, dan juga tidak hanya cukup dengan kata-kata, tetapi juga dalam aksi ataupun tindakan. Berdasarkan pelayanan Yesus, juga jelas diketahui bahwa tujuan pelayanan ataupun penggembalaan yang harus dilakukan seorang gembala adalah kepada orang-orang yang lemah dan orang-orang yang sakit, baik secara jasmani/fisik maupun secara rohani.

2. Ayat 36: Belas kasihan, merupakan suatu hal yang penting untuk memicu berjalannya suatu tugas pelayanan. Hal ini terlihat jelas ketika Yesus melihat, memperhatikan kehidupan orang banyak pada waktu itu. Keberadaan orang-orang yang lelah dan terlantar, inilah yang menimbulkan belas kasihan Yesus. Keberadaan orang-orang yang terlantar menggambarkan kondisi kehidupan orang-orang yang tidak berdaya dan tidak lagi memiliki kekuatan apapun untuk menjalani kehidupannya. Orang-orang seperti inilah yang langsung menjadi korban ketika ketidakadilan terjadi dengan semena-mena. keberadaan orang-orang yang lelah terlantar adalah menggambarkan kondisi kehidupan dari orang-orang yang kehilangan arah atau tujuan dalam hidupnya. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti penindasan struktural yang terjadi, adanya sistem yang berlaku dan hanya menguntungkan pihak-pihak penguasa dan berbagai alasan lain yang terus menekan kondisi kehidupan dari orang-orang yang kehilangan arah dan tujuan hidup. Pengajaran Yesus hendak memberitahukan bahwa kepada orang-orang yang lelah dan terlantar inilah sangat dibutuhkan pelayanan yang benar-benar menggembalakan, yang benar-benar ada untuk menjawab setiap kesusahan dan pergumulan hidup yang mereka hadapi. Yesus mengenal secara benar dan sangat memahami konteks kehidupan dari orang-orang yang menjadi tujuan pelayanannya. Pengenalan dan pemahaman yang benar terhadap konteks pelayanan-lah yang memampukan setiap gembala untuk berbelas kasihan dalam menjalankan pelayanannya.

3. Ayat 37-38: Yesus mengatakan kepada para murid bahwa, “Tuaian memang banyak, tetapi yang menjadi pekerja adalah sedikit.” Perkataan Yesus ini adalah realita yang terjadi  pada waktu itu. Jumlah pekerja atau jumlah orang-orang yang mau dan bersedia menjadi seorang gembala atau pemimpin yang siap menggembalakan atau memimpin orang-orang yang sakit, lemah, lelah dan terlantar memanglah belum banyak. akan tetapi, yesus kepada para murid untuk meminta kepada “Tuan” yang memiliki tuaian, supaya mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian tersebut. Hal yang dimaksud adalah, Allah-lah yang memiliki tuaian itu, dan Allah jugalah yang berhak memanggil para pekerja untuk mengerjakan tuaian-Nya itu. Berarti, pekerja yang setia ataupun gemala yang setia adalah orang-orang yang benar-benar memaknai pemanggilan Allah untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya.

 

RENUNGAN:

Gereja terpanggil untuk mewujudkan kerajaan sorga di tengah-tengah dunia. Perwujudan itu dapat dilakukan ketika gereja benar-benar ada sebagai jawaban atau solusi atas keberadaan manusia yang hidup di dalam tekanan ataupun yang berada di dalam keterpurukan. Gereja tidak hanya cukup memberikan pengajaran ataupun pemberitaan tentang kerajaan sorga, tetapi gereja harus benar-benar mendampingi orang-orang yang tertindas, yang sakit, yang lemah dan yang terlantar. Karena untuk situasi itulah gereja terpanggil dan diharapkan mampu menjalankan fungsinya di dalam setiap kondisi kehidupan para warganya.

Pertanyaannya adalah apakah gereja telah sungguh-sungguh menjalankan fungsinya di dalam setiap keberadaan umat? Untuk itulah, gereja harus benar-benar membenahi dirinya agar dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Gereja harus dapat menjadi gembala yang sejati, seperti Yesus Kristus yang adalah kepala gereja adalah gembala yang setia dan berbelas kasih.

Sumber : Pdt. Pahot. P. Hutagalung, S.Th,  Suara Gkpi, No: 44/02/2013, Edisi Maret 2013, Hal : 46-48

Khotbah Minggu 7 April 2013 (Quasimodegeniti)

KHOTBAH MINGGU 7 APRIL 2013

THEMA : LEBIH TAAT KEPADA ALLAH

KISAH PARA RASUL 5:27-32

 

PENDAHULUAN

Simon Petrus satu nama dari antara murid yang secara khusus mendapat tantangan dari Tuhan Yesus malam sebelum ditangkap. Dalam percakapan itu dinyatakan bahwannya Petrus memiliki gangguan iman (ketakutan). Yesus berkata: “…. tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur, dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Pada saat itu Petrus masih punya nyali dan jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama sama dengan Engkau!” Lalu Yesus berkata “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.” (Lukas 22:32-34). Rasa ketakutan para murid semakin menjadi jadi setelah Yesus disalibkan dan dikuburkan. Lalu mereka berkumpul serta memalang/mengunci pintu dan saat itulah Tuhan Yesus hadir memberi salam damai sejahtera (Yohanes 20:19-23). Pada saat Roh Kudus turun penuhlah mereka dengan Roh Kudus. Ketika itulah Simon Petrus menjadi berani dan tegas untuk menyatakan imannya kepada Tuhan Yesus tanpa ragu lagi dan itulah bagian nas khotbah ini.

 

PENJELASAN.

Sebelum hari Pentakosta, yaitu hari turunnya Roh Kudus, para rasul masih diliputi rasa takut, yang walaupun mereka sudah melihat dengan mata mereka sendiri bahwa Yesus yang disalibkan itu telah bangkit dari antara orang mati. Ketakutan para rasul adalah sekitar jika mereka ditangkap oleh pejabat agama (Imam Besar) dan di eksekusi (dihukum) mati sama seperti Tuhan Yesus. Perasaan takut yang merasuki Petrus membuatnya menyangkal bahwa dia bukanlah salah seorang dari murid Tuhan Yesus. Petrus tak mau mati demi Tuhan Yesus, dia telah sengaja melupakan perkataan dan janjinya yang diucapkan dengan jelas layaknya janji seorang prajurit. Semua janji itu telah disiasiakan, keberanian Petrus menjadi pupus setelah melihat sadisnya penyiksaan yang dilakukan kepada Yesus. Jelasnya Petrus tidak mau mati siasia. Ketakutan itu juga diwarnai dengan ketakutan melihat kehadiran Tuhan Yesus yang dikira hantu setelah kebangkitan dari kematian. (Lukas 24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.) Setelah Yesus menampakkan diri beberapa kali kepada para rasul mulailah mereka bersemangat, demikian juga Petrus menjadi semangat Dia mulai yakin bahwa Yesus benar telah bangkit dari kematian, apalagi sesudah mereka makan bersama-sama (karena hantu tidak makan seperti itu). Dalam pertemuannya dengan Yesus yang bangkit dari kematian ia tahu dan yakin bahwa kematian tidak lagi sesuatu yang perlu ditakutkan. Petrus juga disegarkan kembali ketika Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi Yesus. Yesus memberi perintah kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:17, …..”Apakah engkau mengasihi Aku? ” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau. “Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”.

Apa yang membuat para rasul menjadi pemberani dan dengan jelas mereka memberi kesaksian? Ternyata mereka hidup dengan selalu berdoa: ” …. berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu” (Kisah Para Rasul 4:29-30). Allah mendengar doa mereka dan telah menyelamatkan mereka dari ancaman Sanhedrin dan Allah telah bertindak membebaskan mereka dari penjara melalui para malaikat. Memang itu bukan hanya untuk memberi kenyamanan pribadi mereka, tetapi untuk kelanjutan misi mereka sebagai saksi. Apa yang terjadi dengan Petrus sehingga membuat dia berubah dalam perilakuknya dalam rentang beberapa bulan? Jelas Perasaan takut Petrus hilang dan ia telah menjadi yang paling berani. Apa yang telah menyebabkan perubahan ini? Bagaimana kita menjelaskan semua ini? Alkitab sangatlah jelas. Perubahan Petrus dan para rasul lainnya dan hilangnya rasa takutnya terjadi karena karya Roh Kudus.

Seiring dengan nama minggu Quasimodogeniti yang artinya seperti bayi baru lahir, para rasul juga memiliki sesuatu yang baru. Apa yang menjadi baru bagi para rasul itu? Ada semangat dan keberanian yang baru. Roh Kuduslah membuat pembaharuan kepada mereka seperti bayi baru lahir. Allah di dalam Roh Kudus membuat mereka menjadi berani dan mampu berhadapan dengan siapapun untuk memberitakan Firman (II Timotius 1:7, Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban). Roh Kudus telah mengubah pikiran dan iman para rasul, tidak ada lagi keraguan mereka menyaksikan Tuhan Yesus. Tantangan dan larangan apapun yang mereka hadapi dari Mahkamah Agama tidak menjadi hal yang menakutkan, sekalipun mereka dipenjarakan (ay 27) Para rasul akan menghadapinya. Roh Kudus mengubah hati yang ragu menjadi taat kepada ALLAH dan tidak takut lagi kepada ancaman manusia.

perubahan yang luar biasas dapat dirasakan para rasul, dengan semangat dan oleh kekuatan Roh mereka dapat berdiri di depan Bait Allah bersaksi dan mengajari orang banyak. Bukan hanya mengajari bahkan mereka melakukan pekerjaan kasih, mujizat TUHAN terjadi dengan kesembuhan orang sakit. Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan (ay 16). Melihat suasana keberanian pengajaran yang sangat mempengaruhi orang banyak itu, akhirnya mulailah Imam Besar dan pengikut-pengikut, yaitu orang-orang dari mazhab Saduki, bertindak sebab mereka sangat iri hati (ay 17). Imam Besar dengan keras melarang mereka mengajar dalam nama Tuhan Yesus, karena mereka sudah memenuhi Yerusalem dengan ajaran mereka dan Imam Besar mengancam dengan perkataan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.

Petrus bertindak sebagai juru bicara dan para rasul lain yang menunjukkan persetujuan (dalam bahasa Yunani dengan kata apokritheis dalam bentuk tunggal, diikuti oleh kata kerja jamak terbatas artinya menjawab), mereka mengakui bahwa ketaatan kepada Allah menjadi prioritas atau yang lebih utama dari pada melakukan perintah manusia (bandingkan 4:19-20, Luk 20:25) Petrus menjawab bahwa Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. (Bandingkan contoh lain 22:14). Allah membangkitkan pemimpin Yahudi yang mati tergantung di kayu salib (Lihat Luk 23:21). Dengan bahasa ini Petrus mengacu pada Ulangan 21:23 (“Siapa yang digantung pada kayu salib berada dibawah kutukan Allah”) menunjukkan kedalaman penghinaan kepada Yesus – mereka telah meminta untuk kematian Yesus di bawah kutuk Allah (bandingkan Kis 10:39, 13:29, Gal 3:13). Namun melalui kebangkitan, kenaikan, Allah memuliakan dan telah membenarkan Yesus (Kisah Para Rasul 2:34 / Ps 110:1). Para rasul mengungkapkan bahwa Allah telah menempatkan Tuhan Yesus adalah Mesias yaitu Juruselamat (Kisah Para Rasul 2:21, 36, 38-40). Berkat keselamatan yang diberikannya kepada Israel telah memberi kesempatan untuk bertobat (lihat komentar pada Kis. 3:19) dan pengampunan dosa (2:38, 3:19-20, 26; 10:43, 13:38, 26:18 juga Luka 24:47). Meskipun berkat keselamatan tidak khusus untuk Israel, adalah tepat untuk menyatakan pemenuhan berkat keselamatan yang nenek moyangnya telah diterima di dalam janji (Kisah Para Rasul 3:26; 13:46). Dan kami adlah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia (Ay 32).

 

RENUNGAN

Keberanian Petrus menyaksikan Tuhan Yesus yang adalah Mesias itu adalah suatu yang sangat luar biasa dan merupakan anugerah. Mengingat kisahnya menyangkal yesus kepada orang yang mengatakan bahwa dia adalah murid Tuhan Yesus. Hal ini menjadi renungan buat kita orang Kristen karena di jaman sekarang ini ada juga orang yang telah berbalik meninggalkan imannya demi kedudukan dan harta dunia. Petrus mengajak kita untuk taat dan mematuhi Allah bukan untuk mematuhi manusia atau dipengaruhi kemewahan atau harta dunia. Roh Kudus telah memimpin para rasul kepada perubahan menjadi seperti bayi baru lahir Quasimodogeniti. Dengan memberikan hati dipimpin Roh Kudus kita akan dimampukan menentang tantangan dan pergumulan dunia ini, dan memprioritaskan kebenaran Firman Allah (Jadilah seperti bayi baru lahir yang selalu tergantung kepada orang tua, dalam hal ini sebagai orang kristen yang selalu tergantung atau taat kepada ALLAH) ketimbang menuruti kenikmatan dunia. Hiduplah dengan pembaharuan: taat kepada Tuhan bukan saja sebagai pendengar Firman Tuhan tetapi jadilah menjadi saksi dari kebenaran kuasa Firman Tuhan, Amin.

Sumber : Pdt. O. Lubis, Suara Gkpi, No: 44/02/2013, Edisi Maret 2013, Hal : 44-46

Khotbah Minggu 10 Maret 2013 (Letare)

KHOTBAH MINGGU 10 MARET 2013

THEMA : SUKACITA ATAS KEMBALINYA ORANG BERDOSA

LUKAS 15:11-32

Di dalam Nas ini, ada tiga tokoh penting. Yang pertama anak bungsu, anak sulung dan bapa. Ketiga tokoh ini memiliki sifat yang berbeda-beda.

ANAK BUNGSU

Di dalam kisah ini digambarkan bahwa si anak bungsu meminta warisan (ay 12). Dalam hukum Yahudi Anak sulung menerima dua pertiga dan anak bungsu sepertiga. Umumnya harta warisan ini diterima setelah orang tua meninggal dunia. Namun dalam peristiwa ini si anak bungsu meminta sebelum waktunya.

Yang diperbuat oleh si bungsu terhadap harta warisannya adalah menjualnya keseluruhannya, lalu pergi ke negeri orang dan hidup berfoya-foya disana. Suatu ketika  terjadi bencana kelaparan, akhirnya anak itu pun melarat. Anak bungsu ini mengalami kesusahan yang amat sangat, sampai sampai ia menjadi hamba di negeri orang dan menjaga babi pula. Bagi orang Yahudi babi adalah binatang haram. Tidak hanya sampai disitu saja, ia pun hendak memakan makanan babi tersebut. Makanan babi ini adalah dari kulit kayu. Namun di ay 16 dikatakan tidak seorangpun memberinya untuk makan ampas tersebut. Suatu hal yang amat tragis di mana ia “ternyata” lebih rendah dari pada babi.

Kejadian tersebut membuat ia sadar (ay 17). Ia menyadari bahwa di rumah bapanya ada banyak makanan, bahkan para upahan bapanya menikmati makanan yang berlimpah. Berbeda dengan dirinya di tempat asing untuk memakan makanan babi pun ia tidak diperbolehkan. Kesadaran tersebut menggerakkannya untuk kembali ke rumah bapa. Menarik untuk disimak adalah pernyataan anak bungsu ini tentang penilaiannya akan siapa ia. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai anak lagi, ia sudah bersyukur saat diterima menjadi salah satu upahan bapanya (ay 19). Apa yang terjadi di dalam hidupnya mendatangkan kesadaran, pemahaman, kerendahan hati serta mendorongnya untuk bergerak kembali kepada bapa. Saat ia telah bertemu bapa, ia menyatakan sebuah pengakuan (ay 21) Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak disebut anak bapa.

 

BAPA

Tindakan sang bapa ini memperlihatkan kasih sayang yang amat dalam. Sang bapa tidak memperhitungkan dan mengingat akan perlakukan sang anak bungsu yang memaksanya untuk memberikan harta warisan. Sang bapa tidak mempersoalkan tentang harta yang sudah difoya-foyakan. Sang bapa tidak mempertanyakan kemana saja ia pergi dan apa yang ia lakukan di negeri asing.

Sang bapa hanya tahu bahwa si anak itu adalah anak yang dikasihinya. Menarik untuk disimak adalah saat si bapa melihat anak bungsu dikejauhan hatinya tergerak oleh belas kasihan. Si bapa berlari untuk mendapatkannya disebutkan ia merangkul dan menciumnya.

Si anak bungsu membuat sebuah pengakuan atas apa yang telah ia perbuat (ay 21). Namun si bapa tidak mempersoalkannya. Sepertinya masas lalu si anak tidak begitu penting bagi si bapa. Yang utama baginya adalah bahwa si anak bungsu telah kembali. Si bapa memberlakukan suatu tindakan istimewa di dalam menyambut kedatangan si anak tersebut yaitu dengan mengenakan jubah terbaik, memberikan cincin, dan sepatu serta memotong lembu tambun. Tindakan ini diperbuat oleh karena anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Inilah alasan untuk bersukaria.

 

SI ANAK SULUNG

Saat ia melihat apa yang terjadi, ia marah (ay 28). Si anak sulung memandang bahwa bapanya pilih kasih. Ia yang telah berbakti kepada bapa, ia yang telah melakukan segala perintah bapa, namun si bapa tidak pernah membuat sebagaimana ia menyambut si anak bungsu.  Si anak sulung mempunyai penilaian negatif kepada si anak bungsu yang telah melakukan berbagai kejahatan  dan dosa di sambut bapa dengan suka cita. Lalu si bapa menjawab, Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Si anak sulung iri hati, ia meninggikan dirinya sendiri, ia menjelek-jelekkan adiknya, serta tidak mengakui adiknya sebagai saudara (ay 30).

Dari kisah ini yang manakah sesungguhnya anak yang hilang? Si anak bungsu atau si anak sulung kah? Hal yang dilakukan anak sulung itu mungkin mudah dipahami, namun sikap anak sulung ini barangkali yang perlu kita dalami dalam kehidupan kita. Barangkali kita selalu bersikap seperti anak sulung yang telah melakukan segala yang baik, namun kurang diperhatikan oleh bapa. Oleh sebab itu si anak sulung juga butuh untuk bertobat, butuh untuk merendahkan hati dan mampu bersyukur di dalam kehidupannya.

Sumber : Pdt. HUM. Gultom, S.Th, Suara Gkpi, No: 43/02/2013, Edisi Februari 2013, Hal : 67-68

Khotbah Minggu 3 Maret 2013 (Okuli)

KHOTBAH MINGGU 3 MARET 2013 (OKULI)

THEMA : HADAPILAH UJIAN HIDUP DENGAN KERENDAHAN HATI DAN KEYAKINAN BAHWA BERSAMA TUHAN ADA JALAN KELUAR !

1 KORINTUS 10:1-13

 

PENGANTAR

Saya tertarik dengan bahagian dari pidato marie-Claire Bart-Frommel ini, saat beliau menerima gelar doktor honoris causa-nya (Desember 2011), yang mengangkat pandangan dari sebuah disertasi seorang teolog Indonesia Timur, dan yang dipakai oleh Barth untuk berbicara tentang menghargai budaya lokal sekaligus membicarakan arah-arah berteologi :

Bagi saya sikap seorang nenek Dayak lebih meyakinkan. Cucunya mengeluh: “Nenek, di jalan ke rumahmu ada pohon besar, banyak roh tinggal di situ dan saya takut. Nenek menjawab: “Memang begitu, tetapi roh itu diciptakan oleh Allah, seperti juga engkau dan mereka harus patuh pada Allah. Jadi kalau kau lewat di pohon itu, berdoa sajalah: Ya Tuhan Allah, lindungilah saya”, dan roh manapun tidak dapat berbuat apapun kepadamu”.

Memang, kita membutuhkan cakrawala yang luas, bagaimana bersikap yang terbaik, yang injili, yang positif sekaligus bersifat membimbing, terhadap nilai-nilai budaya dan modernitas. Bimbingan itu perlu terus diberikan oleh gereja terhadap umat, yang menghadapi pertanyaan-pertanyaan sejenis itu dalam keseharian hidup mereka, akibat perjumpaan dengan nilai-nilai budaya, modernitas dan paham-paham agama-agama lainnya.

 

TAFSIRAN 1 KORINTUS 10:1-13

Rasul Paulus, sebagaimana tampak dalam teks ini, memberikan bimbingan kepada orang-orang percaya di Korintus, dengan mengingatkan mereka kepada peristiwa Keluaran (eksodus) dari Mesir yang dialami orang Israel, nenek moyang rohani orang-orang Kristen. “Awan”, “Manna”, “Air dari batu karang” (Ay.1-4), adalah tanda-tanda yang besar tentang kehadiran dan penyertaan Tuhan kepada bangsaNya dalam perjalanan padang gurun itu. Tuhan, melalui tiang awan telah menuntun perjalanan mereka, menunjukkan jalan mereka dan melindungi mereka pada saat-saat yang gelap (Kel. 13:21; 14:19). Mereka telah dipimpinNya menyeberangi Laut Teberau/Laut Merah (Kel.14:19-31). Melalui kedua peristiwa keluaran ini (Tiang awan dan penyeberangan laut), umat Israel mengalami persatuan  yang sempurna dengan Musa (ay.2), sehingga dapat dikatakan bahwa mereka telah dibaptiskan kepada Musa, seperti halnya orang Kristen dibaptiskan ke dalam Kristus (ay.4). Orang Israel telah memakan “manna” di padang gurun (Kel 16:11-15). Pada ayat 4 Paulus mengatakan “Mereka minum dari batu rohani yang mengikuti mereka” (ay.4). Kita dapat membaca Bilangan 20:2-11 yang berbicara tentang bagaimana Tuhan memampukan Musa untuk mengeluarkan air dari bukit batu. Tetapi di sini dikatakan tentang “batu rohani yang mengikuti mereka” (ay.4). Rupanya Paulus mengambilnya dari tradisi rabbinik (yang populer pada zaman Paulus) yang mengatakan bahwa aliran air mendampingi orang-orang Yahudi di padang gurun, atau bahwa sebuah sumur yang digunakan untuk minum mengikuti mereka di dalam perjalanan mereka.di padang gurun. Sungguh luar biasa. ini semua adalah keistimewaan yang dipunyai oleh umat Israel, yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka, dalam peristiwa keluaran itu, sebagai tanda kehadiran dan penyertaanNya terhadap Israel.

Akan tetapi tanda-tanda itu tidak menjamin dan meluputkan orang-orang Israel terhadap amarah Allah. Mereka yang telah mendukakan dan melawan Allah tetap dihukum. Kita dapat melihat bahwa kecuali Yosua dan Kaleb, tidak ada orang Israel yang keluar dari Mesir itu yang masuk ke tanah Kanaan (Bil.14:30-32). Itulah penghukuman Allah kepada mereka yang tidak setia, yang jumlahnya begitu banyak. Demikian juga mereka yang menyembah patung lembu ketika Musa menghadap Tuhan, mereka dihukum Tuhan (Kel.32:1-35) Atau, ketika orang-orang Israel bersalah karena melakukan perzinahan dengan perempuan-perempuan Midian dan Moab dan turut menyembah allah mereka, berakibat ribuan orang mati (ay.8,bdk.Bil25:9). Ketika Korah, Datan dan Abiram memberontak, penghakiman dikenakan kepadanya dan pengikutnya (Bil. 16:1-50).

Rasul Paulus menceritakan kisah itu sebagai contoh (ay. 6, 11; bdk. Roma 15:4; II Timotius 3:16), dan meminta orang-orang percaya di Korintus menarik pelajaran rohani dan peringatan dari leluhur rohani mereka itu bahwa walaupun umat Tuhan, Israel, menikmati keistimewaan yang diberikan Tuhan melalui kehadiran dan penyertaanNya dalam hidup bangsa itu, hal itu tidak menjamin bahwa orang percaya akan aman ketika pencobaan menyerang. Seperti orang Israel di padang gurun, orang percaya di Korintus pun dapat terjebak kepada dosa-dosa seperti yang Israel lakukan :

a. Menjadi penyembah-penyembah berhala (ay.7): Jika tidak hati-hati, orang Korintus dapat terjerumus kepada penyembahan berhala seperti umat Israel dengan lembu emas; dan bahwa tindakan mengutamakan sesuatu di luar Tuhan adalah termasuk kepada cobaan ini.

b. Percabulan/Perzinahan (ay.8): Godaan ini juga sering mengancam manusia, sampai sekarang. Beberapa orang Korintus (1 Kor 6:12-20) terpengaruh oleh hidup asusila lingkungan kafirnya, seperti dilakukan oleh orang Israel terhadap perempuan Moab dan Midian.

c. Mencobai Tuhan (ay.9): Orang Israel dihukum karena mencobai Tuhan, dengan ular berbisa. Ada godaan untuk menganggap Tuhan itu jauh dan mempermainkan belas kasihan Tuhan; menganggap bahwa Tuhan akan selalu mengampuni.

d. Bersungut-sungut (ay.10): Memberontak melawan Allah dan hamba-hambaNya akan dihukum seperti dialami Israel yang memberontak melawan Musa.

Maka hendaknya hal ini dijadikan sebagai peringatan oleh umat Korintus (ay.11). Mereka yang terlalu percaya pada martabatnya hendaknya berhati-hati (ay.12). Menurut Rasul Paulus, pencobaan itu adalah bahagian dari hidup (“pencobaan-pencobaan biasa”, ay. 13) Jadi jangan berpikir bahwa pencobaan akan absen dari hidup. Dan sebenarnya pencobaan bukan untuk membuat kita jatuh tetapi untuk menguji kita, sehingga setelah melaluinya kita akan menjadi lebih kuat. Setiap pencobaan yang menghampiri hidup kita bukanlah sesuatu yang h anya menimpa kita seorang; pencobaan itu tidak unik melainkan sesuatu yang umum. “Tidak dicobai melampaui kekuatanmu” (ay.13): Allah mengetahui keterbatasan kita dan Ia tidak akan mencobai melebihi kemampuan kita. Dan pada pencobaan-pencobaan selalu ada jalan keluar (ay.13). Jadi tidak mesti jatuh (bila menghadapi cobaan), sebab, sekali lagi, ada jalan keluar. Ide dasar dari “jalan keluar” ini diambil dari dunia perang. Tentara yang terkepung tiba-tiba melihat rute yang dapat dilaluinya untuk keluar dari kepungan. Berdasarkan nats ini kita juga bisa mengatakan bahwa pencobaan itu dapat dibedakan antara pencobaan biasa, yang dapat ditanggung manusia, dan pencobaan yang melebihi kekuatan manusia. Pada yang terakhir ini, hanya dengan pertolongan Tuhan sendirilah seseorang manusia dapat menahannya.

 

RENUNGAN :

1. Seperti cerita di awal di mana sang nenek menasihati cucunya, demikianlah kita perlu saling menasihati dan menguatkan bahwa setiap pencobaan dapat kita hadapi dan tanggung, serta meyakini bahwa pada setiap pencobaan, selalu ada jalan keluarnya. Setiap masalah ada jalan keluarnya yang terbaik. Semangat seperti ini dimiliki oleh mereka yang percaya kepada Tuhan. Sebab, Tuhan, kita yakini sebagai Dia, yang setia dan tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan  kita, dan Ia sendiri memberi kita jalan keluar (ay. 13).

2. Kita dapat belajar dari contoh-contoh dan pengalaman-pengalaman. Contoh yang positif kita ikuti dan contoh yang negatif mari kita hindari. Ini mengandaikan kerendahan hati, untuk sedia belajar dari pengalaman orang lain.

3. Terdapat dua kali kata kamu (/mu), yang menggunakan kata ganti jamak (plural), dalam kalimat “Ia tidak membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (ay.13). Ini hendak menunjukkan bahwa pengalaman mengalami pencobaan itu sesungguhnya tidak sesuatu yang ditanggung satu pribadi/individual saja, tetapi sesuatu yang harusnya ditanggung bersama. Kematian isteri misalnya, adalah juga hal yang dialami oleh yang lainnya, karena itu orang lain seharusnya diingat dan disertakan (melalui berbagi) dalam pengalaman diuji itu (“you collectively can handle”; bdk. Gal.6:2).

Sumber : Pdt. Jhon P.E. Simorangkir (Pendeta Resort Jaya IV), Suara Gkpi, No: 43/02/2013, Edisi Februari 2013,, Hal : 65-67

 

Khotbah Minggu 24 Februari 2013 (Reminiscere)

KHOTBAH MINGGU 24 FEBRUARI 2013 (REMINISCERE)

THEMA : ALLAH TETAP PADA JANJINYA

KEJADIAN 15 : 1 – 6

 

PENDAHULUAN

Abram diberkati hidupnya bukan karena dia baik dihadapan Allah. Dihadapan manusia dia memang cukup baik, demikian juga di dalam pandangannya sendiri, dia sudah cukup baik dan layak diberkati. Namun tidak dihadapan Allah. Demikian juga dengan kita yang memandang diri kita sebagai orang baik dihadapan semua orang. Abram diberkati hidupnya bukan karena dia lebih baik dari yang lain. Kalau Abram diberkati dan dibenarkan oleh Allah karena perbuatan baiknya maka Abram memperoleh dasar untuk bermegah. Sebab jikalau Abram dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Abram bisa saja mengatakan: lihatlah diriku, saya orang yang sangat baik. Tetapi Allah menjawab : menurutmu engkau baik, tetapi menurut penilaianku, kamu tidaklah baik, bnd. Yes 64:6.

 

PENJELASAN

Ungkapan dalam ayat 1 dalam pasal ini merupakan Firman TUHAN tentang penyataan kemauanNya dan rencanaNya tentang Abram, sehingga jelas bahwa janji itu bukanlah hanya angan-angan dan cita-cita atau hasrat hati Abram. Hasrat bukanlah bapa-pikiran. Janji itu bukanlah suatu pikiran dalam hati Abram, melainkan suatu penyataan dan penyingkapan dari luar diri Abram kepada Abram sendiri. Dengan nasehat dan jaminan “Janganlah takut, Abram” maka Allah sendiri mengambil alih tanggung-jawab atas kehidupan, yaitu perlindungan atas nyawanya  dan upah-ganjarannya. Rasa takut Abram mempunyai dasar yaitu takut kepada Kedorlaomer dan teman-temannya, yang akan menyerang balik, balas dendam, sebab semuanya ini dikarenakan keberanian Abram. Padahal tidaklah demikian melainkan karena Allah tetap mendampinginya, lht. Kej. 14, begitu juga dengan ketakutan karena belum memperoleh anak, ayt.2-3. Suatu pergumulan yang cukup mengganggu hidup Abram apalagi dengan Sara sendiri, siapa yang akan menjadi penerusnya nantinya. Abram juga mempunyai rasa takut dengan perjumpaannya kepada kekudusan demikian halnya dengan Musa yang menutupi wajahnya agar tidak mati. Kekudusan dan kemuliaan Tuhan bisa menghanguskan orang berdosa.  Allah sebagai perisai Abram itu sebabnya kemana Abram pergi Allah tetap mendampinginya sehingga tidak ada siapapun yang berani untuk mengganggu akan keberadaan Abram, bnd.Yoh.10:28-29.

Kita sering melakukan sesuatu dengan mengandalkan pikiran kita sendiri bukan didasarkan dengan imannya. Iman tidak bekerja pada saat sesuatu itu masih mungkin kita lakukan. Iman itu dimulai ketika kuasa kita tidak mampu lagi. Disinilah kita mempunya rasa takut karena tidak ada yang bisa menjamin keselamatan kita. Ketakutan yang sebenarnya adalah ketika kita merasa tidak berdaya tidak bisa berbuat apa-apa. Allah telah memberikan jaminanNya sekaligus jaminan kita sebagai orang yang percaya. Tidak ada yang perlu ditakuti walau kita tidak berdaya, karena ada kuasa Allah yang mahakuasa yang mau menjadi perisai hidup/lombulombu bagi kita; sehingga siapapun dan apapun tidak akan bisa merampas kita tanpa seizin Allah, asal kita mau menyerahkan diri kita sepenuhnya kedalam tangan Tuhan. Yakinilah Tuhan agar kita jangan dihantui dengan ketakutan. Allah berada dalam kemuliaanNya sebab kita tidak bisa memahami Allah dengan logika kita. Abram bertanya kepada Allah, lht ayt 2, hal ini ditunjukkan oleh Abram dengan memakai logika padahal Allah sendiri telah mendampinginya dalam mengalahkan kedorlamer bersama empat raja dan para sekutunya, Abram tidak percaya dengan janji Allah sebab secara kemanusiaan manalah mungkin perempuan yang sudah lanjut umur akan melahirkan seorang anak. Hal ini merupakan suatu dakwaan terhadap Allah yang dilakukan oleh Abram sendiri. Seperti kita ketahui bahwa Iman itu tidaklah datang sekaligus, melainkan mengalami suatu proses dalam kehidupan orang-orang yang percaya.

Dengan peristiwa yang demikian Allah menempa Abram menjadi orang yang percaya. Bila keraguraguan kita serahkan melalui tuntunan Roh Kudus maka itu akan berubah menjadi iman yang kokoh. Tuhan ingin kita tahu bahwa Dia adalah sang creator dan sang maestro yang tiada tanding. Tiada yang mustahil bagi Tuhan. Segala keragu-raguan hati manusia tidak dapat diatasi oleh sesuatu apapun, jikalau tidak oleh Firman Allah, penyataan rencana dan kemauanNya. Firman itulah yang hendak menegaskan dan meneguhkan hati Abram yang telah bimbang dan pusing kepala. Firman Allah melawan dan menentang ketakutan dan kegelisahan hati manusia dan memberikan kepastian dan ketetapan hati. Untuk memberikan kepastian Allah mengajak Abram untuk melihat bintang dilangit bukan hanya dengan mendengar tetapi langsung untuk mengajak melihat kenyataan itu. Sehingga allah mengatakan seperti bintang dilangit itulah akan keturunanmu, bagaimanalah mungkin secara logika manusia? Tetapi dibalik semuanya itu Abram menjadi percaya serta menerima janji Allah itu sebagai keyakinannya, bnd.Ibr.11:1.

Semua keraguan Abram telah terbuang dengan rencana-rencana yang ia buat, baik itu akan mengangkat anak dari si Hagar sebagai ahli waris, kini sudah menjadi kenyataan serta memiliki iman yang teguh serta dengan hati yang bulat dia menerima janji Allah. Abram tidak mempunyai rencana lain dia hanya mengandalkan janji Allah,lht.Ibr.11:11. Terbukti bahwa janji Tuhan itu bukan omong kosong bila kita terima dengan iman sebab mujizat adalah spesialisNya, yang penting bagi kita adalah yakinilah Allah dengan seratus persen. Biarlah Tuhan yang bekerja, itu adalah spesialisasiNya, Dia adalah ahlinya. Mujizat Tuhan masih terjadi hari ini dan itu juga sudah diperuntukkan bagi kita serta mau benar-benar percaya kepada Dia. Abram menjadi benar di mata Tuhan bukan karena diri dan kebaikannya sendiri tetapi karena imannya. Imannya menghapus segala kelemahannya. Janganlah kita batasi diri kita mempercayai Allah sebab imanmulah yang menyelamatkan dirimu.

Allah tidaklah memberkati mereka yang menganggap dirinya baik dan benar, Allah memberkati mereka yang percaya kepadanya. Kita yang sudah percaya kepada Kristus sudah menerima pembenaran ini, karena kita sudah percaya kepada Kristus maka kita dinyatakan benar dihadapan Allah dan layak menerima berkat-berkat Allah. Allah memberikan semua kebenaranNya kepada kita sebab kebenaran Kristus menjadi milik kita. Allah memberikan kepada kita anugerah keselamatan dan juga berkat-berkat y ang kita butuhkan dalam menjalani hidup ini semuanya ini diperoleh memalui iman kepada Kristus Yesus.

 

RENUNGAN

Iman kepada Kristus membuka semua berkat-berkat Allah buat kita, sekarang kita tinggal mengambil semua berkat itu dengan iman. Setiap hari kita mesti hidup dengan iman untuk menerima segala berkat Allah, bnd.Rom.1:17, Perjuangan kita dalam pelayanan, dalam pekerjaan dalam kesehatan, sebenarnya bukan hanya perjuangan secara fisik saja, melainkan juga kita berjuang dengan iman sebab dengan iman kita akan berhasil. Dalam pelayanan kita butuh hikmat dan kuasa serta dalam kehidupan sehari-harinya, dengan dilandaskan pada iman sebab orang yang imannya besar akan menikmati segala berkat-berkat Allah. Iman dan keraguan adalah dua sisi mata yang, kalau iman tidak ada maka keraguan yang muncul, jika keraguan tidak ada, maka iman yang akan terlihat. Keraguan itu selalu melihat halangan, Iman melihat adanya jalan, keraguan selalu melihat malam yang gelap, Iman melihat adanya hari yang terang, keraguan takut untuk melangkah, Iman akan mendaki ketinggian, keraguan akan bertanya, siapa yang akan percaya? Janganlah melihat yang kelihatan, pandanglah yang tidak terlihat yakni Allah. Percayalah bahwa hal-hal yang luar biasa dan mustahil bisa terjadi oleh kuasa Allah. Iman itu bukan hanya percaya firman Tuhan, namun menyerahkan diri kita kepada Tuhan dan firmanNya.

Sumber : Pdt. R. L. Gultom, STh. MA, Suara Gkpi, No: 43/02/2013, Edisi Februari 2013,, Hal : 63-65